[Tinjauan Buku] Wide Angle, National Geographic Greatest Places

Tiga orang bersepeda melintasi tepian kanal Main-Danube, sang fotografer Gerd Ludwig, pria kelahiran 1947 ini berdiri persis diseberang kanal saat ketiga pesepeda melintasi tepian kanal yang baru selesai dibangun tahun 1992 ini. Moncong lensa kamera Gerd Ludwig diarahkan mengikuti ketiga pesepeda. Klik!, Gerd Ludwig menekan rana saat pesepeda melintas tepian kanal dengan latar belakang batang pohon tersusun rapi tak lupa refleksi dari air kanal dimasukkan menjadi elemen foto.

Buku Wide Angle, National Geographic Greatest Place

Bak dua sisi cermin, terciptalah foto yang memukau. Namun tak hanya itu, sejarah panjang terciptanya kanal Main-Danube ini melengkapi foto luar biasa karya GerdLudwig ini. Inilah kanal yang dibangun dalam rentang waktu yang sangat lama dan menghubungkan Laut Utara dan Samudra Atlantik ke Laut Hitam.

Kanal Main-Danube ini dipilih editor menjadi cover dari buku Wide Angle, National Geographic Greatest Place. Buku yang memuat 260 foto breathtaking ini tentunya tidak hanya menawarkan visual memukau yang menjadi ciri National Geographic. Kumpulan foto yang ada dalam buku ini dipilih dengan ketat dari jutaan foto yang ada di arsip National Geographic.

Buku ini menyajikan foto-foto dari setiap sudut di planet bumi. Pemandangan alam yang luar biasa, koleksinya pun dilengkapi dengan panorama bumi yang memukau hingga sudut-sudut kota dengan arsitektur yang menawan. Juga pemandangan yang biasa kita lihat namun dihadirkan dari kacamata fotografer yang kreatif menghadirkan cara pandang visual yang baru bagi penikmat fotonya.

Bagian buku Wide Angle, National Geographic Greates Place

Wide Angle ini dibagi menjadi 12 bagian. Masing-masing bagian menawarkan pesona yang memukau seperti bagian East & Southeast Asia, Oceania, Central & South Asia, Middle East, Central & Eastern Europe, Northern Europe, Western & Southern Europe, North Africa, Sub-Saharan Africa, North America, Central & South America, and Polar Regions.

Masing-masing bagian buku ini menawarkan tempat-tempat yang mewakili masing-masing bagian dari bumi. Seperti bagian North Africa yang menawarkan foto-foto di gurun dan tradisi masyarakat gurun maupun tempat-tempat yang tidak terpublikasi dari kawasan di bagian Afrika Utara.

Melintasi daerah Khumbu, Nepal. Foto oleh Robb Kendrick

Begitu juga dengan bagian Polar Regions, foto-foto yang memukau yang dihasilkan dari daerah kutub. Foto yang dimuat pun beraneka ragam, menggambarkan kehidupan daerah kutub yang sangat sulit karena kondisi suhu yang sangat ekstrem. Mengenai penjelajah J.B Lippincott tahun 1912 yang menjelajah Antartika.

Essay yang ditulis oleh Ferdinand Protzman, penulis budaya, kritikus, dan editor di Artnews semakin melengkapi buku ini. Essay-nya merefleksikan seni fotografi dengan berbagai makna yang terkandung didalamnya yang berkaitan dengan bagian bab buku ini.

Secara kualitas cetak, buku ini tak perlu diragukan lagi. Warna foto yang luar biasa diatas kertas art paper. Dan juga ukurannya yang ringkas, 16cm x 17cm, menjadikan buku ini sangat ringkas dan bisa dibawa kemana-mana.

Buku ini melengkapi trilogi yang dikeluarkan oleh National Geographic Society, yakni Through the Lens dan In Focus. Wide Angle membawa kita melakukan perjalanan visual ke berbagai sudut bumi ini. Selain itu, cerita yang menarik dari penugasan fotografer yang mendedikasikan hidupnya untuk mengabadikan gambar-gambar menawan mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap menjaga bumi dan segala isinya untuk anak cucu kita.

Selamat membaca !

Foto Randy Olson mengenai seorang Suku Dinka dengan gembalanya di Sudan

Hariman Siberia oleh Marc Moritsch (kiri). Foto Burung merak beristirahat yang diambil oleh Frans Lanting di sebuah pohon di Bandipur, India (kanan).

Memotret Saat Hujan? Kenapa Nggak?

FK-wan, pernahkah berburu foto saat hujan mengguyur ?

Jika jeli, tentunya membuat foto dikala hujan mengguyur daratan akan membantu FK-wan menghasilkan foto yang menarik, mood dan emosi yang bisa dinagkitkan dari foto yang dihasilkan bahan mendapatkan angle serta komponen gambar yang luar biasa.

Namun tentunya memotret saat hujan juga memiliki resiko terhadap kamera FK-wan. Resiko terbesar adalah terkena air yang bisa saja menyebabkan kerusakan pada kamera.

Hujan di Borobudur (Mohamad Iman/fotokita)

Nah bagaimana mengatasi dan melindungi kamera saat berburu foto kala hujan ?

1. Melindungi kamera dari air.

Saat asik memotret dikala hujan, kita terkadang lupa bahwa kamera sudah basah terkena tetesan hujan. Untuk mengantisipasinya, FK-wan bisa membungkus kamera dengan raincover yang banyak dijual dipasaran. Atau jika keadaan darurat, FK-wan bisa menggunakan kantong plastik kemudian pada ujung lensa diikat dengan karet/ tali.

Selain melindungi kamera dengan raincover atau plastik, FK-wan juga bisa menggunakan payung saat memotret. Penggunaan payung selain melindungi kamera, juga membuat fk-wan nyaman dalam memotret meskipun saat hujan. Payung juga bisa digunakan sebagai framing yang menarik untuk menghasilkan foto.

2. Melindungi mulut lensa dari cipratan air.

Salah satu cara untuk melindungi bagian depan lensa adalah dengan memasang lens hood. Aksesoris lensa ini bisa melindungi bagian depan lensa dari cipratan air secara langsung. Selain lens-hood, melindungi bagian depan lensa bisa menggunakan filter sehingga air tidak mengenai bagian optik lensa secara langsung.

3. Jangan lupa bawa kain pembersih kamera dan tisu lensa.

Air yang membasahi kamera atau lensa, sebaiknya segera dikeringkan dengan kain pembersih. Hal ini menjaga agar kamera tetap terjaga sehingga air tidak menyebabkan kerusakan pada kamera.

4. Gonta-ganti lensa, berhati-hatilah.

Saat berburu foto dikalan hujan, usahakan meminimalisir pergantian lensa. Jika pun harus mengganti lensa, usahakan agar lens mount tetap mengarah kebawah serta body kamera tetap mengarah kebawah. Hal ini menjaga bagian lensa dan kamera tidak terkena air hujan.

Demikian tips singkat untuk melindungi kamera saat berburu foto dikala hujan. Selamat berkreasi dan jangan takut hujan untuk menghasilkan foto yang menarik, FK-wan.

Naik, naik, turun, naik, ya! Lurus!

Mendapatkan horizon yang lurus ketika memotret pemandangan atau lanskap mungkin sulit, meski sudah menggunakan tripod.

Ketika merekam lanskap, pemandangan laut, atau arsitektur, horizon yang lurus adalah hal mendasar yang sebaiknya didapatkan seorang fotografer (meski tidak mutlak). Sedikit saja kamera miring bisa mengacaukan foto yang mungkin seharusnya menarik. Melihat dengan mata kepala saja mungkin sulit, bahkan meski kamera sudah dipasangkan pada tripod. Tapi, ada beberapa teknik dan gadget yang bisa digunakan untuk memastikan foto FK-wan “sempurna”.

Sekarang, banyak kamera yang sudah dilengkapi dengan spirit-level built-in, garis-garis grid, atau bahkan display horizon virtual untuk membantu menciptakan komposisi yang lurus. Lihat tabel di bawah ini untuk mencari tahu apa yang ditawarkan oleh model tertentu. Kalau kamera tidak mempunyai bantuan untuk meluruskan garis built-in, spirit level yang dipasangkan pada hotshoe bisa jadi alternatif yang cukup murah dan mudah, atau gunakan saja titik fokus pada viewfinder kamera untuk membantu.

1. Menggunakan viewfinder
Titik fokus dalam viewfinder pada SLR menawarkan cara mudah untuk mengecek horizon. Titik-titik ini sering kali ditunjukkan dalam bentuk garis-garis lurus di layar, jadi gunakan saja titik-titik terdekat dengan horizon untuk mengecek bahwa komposisi sudah lurus.

2. Grid lines
Sebagian kamera menyediakan fitur grid lines pada viewfinder, sehingga lebih mudah untuk mengecek bahwa semuanya lurus sebelum FK-wan merekam gambar. Fitur ini tidak tersedia di semua kamera, tapi kalau FK-wan mempunyai Live View, mestinya fitur ini ada di menu display.

3. Spirit level
Spirit level yag dipasangkan pada hotshoe merupakan aksesoris yang praktis dan murah yang sempurna untuk meluruskan kamera ketika terpasang pada tripod. Sebagian kamera sudah dilengkapi dengan spirit level built-in yang memberikan informasi serupa pada viewfinder atau pada LCD atas.

4. Horizon virtual
Banyak kamera yang menawarkan horizon virtual, yang memberikan tampilan visual di layar belakang untuk menentukan apakah kamera sudah lurus. Fitur ini bisa diaktifkan melalui menu, dan selanjutnya pengaturan horizon virtual ini mudah disesuaikan agar kamera lurus dalam format horizontal atau vertikal.

Semoga bermanfaat dan selamat memotret!

(Sumber: Digital Camera Indonesia)

17+1 Foto Pasar Malam Pilihan

Pasar malam, yang kini kian langka, menjadi salah satu subjek yang diminati para pemotret. Kelap-kelip lampu yang menyala dari berbagai wahana permainan merupakan atraksi yang meriah di wilayah-wilayah yang biasanya terpinggirkan. Ekspresi bahagia yang sederhana dari anak-anak yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah adalah oasis di tengah penatnya hidup.

Di Fotokita.net, cukup banyak FK-wan yang berbagi imaji pasar malam. Beberapa yang menurut kami paling baik kami hadirkan di bawah ini. Jangan lewatkan pula untuk menyimak cerita dan foto-foto dari liputan kami soal pasar malam di tautan ini, dan galeri fotonya di sini.

PS:
1. Foto-foto yang kami pilih ini hanyalah berdasarkan pencarian kata kunci “pasar malam”. Artinya, bisa jadi masih banyak foto bagus tentang pasar malam yang tidak mengandung kata kunci tersebut.

2. Silakan klik pada foto untuk melihat link aslinya.

======

Martin Dody Kumoro

Andi Anshari

Isnawan Saputra

Temy

Alnahwan

Fransiskus Simbolon

Doni Setiadi

Ridho Hidayat

Muhammad Ichsan Rahmanto

Fransiskus Simbolon

Donny Sophandi

Grandis Zendy S

Ardiansyah Indra K

Imam Muwahidin

Radjawali Muhammad Prijadi

Imam Muwahidin

Tantra Ahmad

Ini satu lagi tambahan dari hasil pencarian :)

Wawan H. Prabowo

Histogram: clipped (bagian 2: habis)

Pada artikel pertama kami soal histogram, kami tutup dengan istilah clipped. Clipped bisa jadi pertanda buruk pada eksposur foto.

Jika histogram berada di sebelah kiri atau kanan skala, artinya ada bagian informasi gambar yang hilang. Jika histogram mengalami clipped (berkumpul) di sisi kiri, area shadow paling gelap bisa dikatakan crushed, karena hanya akan menjadi hitam pekat, tanpa detail. Boleh-boleh saja kalau Anda menginginkan shadow atau langit malam, misalnya, tampak hitam pekat, tapi bahkan pada shadow dan langit malam pun biasanya diharapkan masih ada sedikit tekstur atau detail.

Cara membaca histogram


Ketika histogram mengalami clipped di sebelah kanan, highlight dikatakan sebagai blown, dan akan diterjemahkan sebagai putih bersih, yang juga tanpa tekstur atau detail sama sekali.

Ada kalanya kita tidak dapat terhindar dari clipped highlight. Highlight yang seperti kaca, berupa spot cahaya terang yang direfleksikan oleh objek yang bersinar, sudah semestinya berwarna putih terang dan tidak berisikan tekstur atau detail penting.

Jadi, FK-wan perlu memastikan ada ruang antara sisi kanan histogram dan batas skala. Tapi jangan terlalu banyak mengosongkan ruang. FK-wan harus selalu mencoba dan mengekspos gambar digital agar terlihat seterang mungkin, tapi tidak mengalami clipped, karena untuk alasan teknis sensor dapat merekam lebih banyak informasi tonal ke arah batas terang histogram.

Muncul pertanyaan, adakah kemungkinan histogram mengalami kesalahan? Jawabannya tidak. Histogram hanyalah representasi rentang tonal. Pada kamera tertentu, grafik ini kecil, sehingga akan sulit untuk menilai apakah batas histogram berada pada batas skala, tapi fitur pengingat highlight (highlight alert) akan memberitahukan jika ada area yang over-exposed.

Silakan dipraktikkan sendiri, dan upload di FK kalau sudah berhasil ya ;)

Salam.

(Sumber: Digital Camera Indonesia)

Dilarang Memotret!

Gedung Pertunjukan Sydney Opera House tampak dari seberang, di area Circular Quay.

“Welcome to Sydney Opera House. Please do not take any pictures,”  ucap Tim, dengan amat tegas. Ia adalah pemandu kami yang hendak berkeliling di dalam gedung pertunjukan tersebut. Saat bertandang ke negeri orang seperti ini, saya jadi amat terbiasa untuk bertanya kepada pemilik toko, museum, atau tempat wisata lainnya: bolehkah saya memotret?

Di dalam Sydney Opera House, memotret dilarang dengan keras, terutama di dalam ruang pertunjukan. Menurut Tim, hal ini dilakukan untuk menghormati hak-hak yang dimiliki oleh para pemusik atau pebalet yang sedang manggung.

Sementara itu, kebanyakan museum tidak memperbolehkan penggunakan flash, karena sinar yang kuat bisa menurunkan kualitas karya seni yang ada. Alasan lainnya adalah, museum melindungi hak cipta para pekerja seni. Tripod juga tak diperbolehkam masuk di sini dengan alasan takut menyenggol benda-benda yang ada.

Sebelum tiba di suatu tempat, jika tujuan Anda memang memotret, ada baiknya untuk mencari tahu peraturan mengenai hal ini di internet. Seperti di dalam situs resmi Sydney Opera House, Anda akan menemukan peraturan seperti ini: Camera, video and audio recorders may not be used inside Sydney Opera House, unless expressly authorised.

Salah satu ruang rias dari puluhan ruang rias yang ada di Sydney Opera House. Di sini pengunjung boleh memotret.

Dalam tour di dalam Sydney Opera House, Tim menekankan, pemotretan boleh dilakukan di beberapa tempat yang akan dia tunjuk kemudian, seperti di ruang rias.

Di dalam gedung ini terdapat tiga ruangan yang dipergunakan sebagai tempat pertunjukan. Kami diperbolehkan menonton para artis melakukan check sound, berikut permainan lampunya. Desain ruangan-ruangan pertunjukan ini luar biasa. Apalagi untuk saya yang senang menonton pertunjukan teater di tanah air.

Namun, seterpana-terpananya saya dengan keindahan ruangan ini, saya tahu, saya hanya bisa merekamnya dalam memori ingatan saja. Mari menghormati peraturan untuk dilarang memotret :D

Histogram? Apa Itu? (bagian I)

FK-wan ingin mendapatkan eksposur yang “sempurna” setiap saat? Pahami histogram!

Menemukan fitur histogram

Histogram merupakan panduan visual yang memuat rentang tonal atau tingkat kecerahan dalam gambar. Histogram dapat dilihat pada layar LCD kamera di samping gambar setelah gambar ditangkap, atau ditampilkan selama perekaman Live View. Namun, keduanya selalu membei tampilan sama: grafik kecil yang menunjukkan tonal apa yang menyusun gambar.

Lalu, mengapa pengguna kamera membutuhkannya?

Histogram akan menunjukkan penyebaran tingkat kecerahan dalam suatu gambar yang FK-wan jepret, sehingga histogram menjadi cara paling efektif untuk menilai eksposur gambar. Histogram juga memberi petunjuk tentang apakah FK-wan perlu membuat eksposur menjadi lebih terang atau lebih gelap.

Histogram standar yang terdapat pada kamera DSLR mengukur kecerahan pada skala 256 tingkat. Bagian paling kiri pada grafik merepresentasikan 0, atau hitam pekat, dan bagian paling kanan histogram merepresentasikan 255, atau putih bersih. Tingkatan-tingkatan di antara kedua nilai ini diisi dengan nuansa berbeda, dengan bagian tengah menjadi tingkat kecerahan midtone. Tinggi histogram pada setiap titik di skala 256 titik ini menjadi indikasi jumlah piksel pada gambar, pada tingkat kecerahan tersebut. Ukuran dan bentuk histogram akan berubah menurut perpaduan tonal pada gambar.

Histogram bisa dikatakan sebagai refleksi dari apa yang ada di depan kamera. Jika pemandangan atau objek gelap, histogram akan memuncak di sebelah kiri, sementara jika pemandangan atau objek terang, histogram akan mengarah ke sebelah kanan. Jika pemandangan didominasi dengan midtone, misalnya kuda cokelat di tengah lapangan rumput hijau, histogram akan memuncak di bagian tengah skala.

Meski demikian, tidak ada istilah histogram “sempurna”. Artinya, ada kalanya FK-wan mungkin perlu melakukan perubahan pengaturan untuk mendapatkan histogram yang lebih akurat, dan oleh karenanya eksposur yang lebih akurat.

Kamera tidak selalu mendapatkan cahaya yang benar secara otomatis. Mengingat pengukur cahaya built-in didesain untuk mencapai eksposur dengan rentang midtones rata-rata, pemandangan yang jauh lebih terang daripada midtone (seperti pemandangan bersalju putih) akan ditampilkan abu-abu atau under-exposed. Sebaliknya, pemandangan yang jauh lebih gelap daripada midtone (seperti pemandangan malam dengan banyak shadow) juga akan ditampilkan abu-abu, atau over-exposed.

Cara untuk memperbaiki hal ini adalah menggunakan Exposure Compensation agar gambar lebih lebih terang atau lebih gelap. Caranya, tekan tombol bertanda “+/-” dan putar pengatur pada kamera. Putar searah jarum jam untuk memperterang gambar, atau ke arah sebaliknya untuk mempergelap gambar. Di sinilah histogram paling terasa kegunaannya, sehingga Anda bisa menilai seterang atau segelap apa gambar akan dibuat. Ketika mengabadikan pantai berpasir putih di hari yang cerah, misalnya, Anda akan tahu kalau histogram akan lebih dekat ke sisi kanan skala. Kalau tidak, lakukan Exposure Compensation positif dan teruslah memeriksa histogram sampai mencapainya. Namun, pastikan Anda tidak berlebihan melakukannya, agar histogram tidak mengalami clipped.

Semoga berguna buat FK-wan.

(Sumber: Digital Camera Indonesia)

Foto: Cermin Interaksi Kita dengan Alam dan Manusia Lain

Pengalaman saya memotret di lingkungan Taman Nasional Sebangau: patuhi adat setempat.

Perjalanan menembus hutan rawa gambut yang merupakan bagian dari ekosistem Air Hitam bersama WWF-Indonesia di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, memberikan pembelajaran terhadap diri saya sebagai jurnalis, yang dapat dibagi kepada FK-wan serta para pejalan. Beruntung, aturan tidak tertulis ini sudah menjadi bagian dari diri saya, sehingga tanpa terasa sudah berjalan alami.

Memotret Kampung Jahanjang lihat senyuman warga kepada fotografer. (Foto: Dian Rachmawaty)

Di luar teknik penguasaan fotografi yang beragam dari seluruh teman seperjalanan, hal mendasar yang sejatinya dimiliki semua orang adalah berpegang pada etika dalam memotret. Saat tinggal di wisma wisata Danau Bulat, Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, saya berkenalan dengan banyak warga setempat. Berbagi cerita, tertawa bersama, dan ketika ingin mengabadikan mereka, minta izin lebih dahulu. Hasilnya, semua wajah tampak ceria serta tidak canggung.

Hal ini penting bagi saya, karena mengindikasikan saya bukan lagi seseorang yang asing bagi mereka. Saya menjadi bagian dari mereka, dan hal itu melebihi kesenangan terhadap kualitas foto saya: buram atau fokus, punya nilai estetika atau masih kurang.

Memotret ular hetengen bulan bersama Pak Alwi warga lokal di TN Sebangau. (Foto: Dian Rachmawaty)

Hal yang sama saya lakukan ketika memotret salah satu satwa hutan: ular hetengen bulan, dari bahasa setempat yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti ular serba rupa. Tentu saya tidak meminta izin terlebih dulu, tetapi saya berupaya mengambil jarak yang rasional sehingga tidak mengganggu mereka. Selain sebagai bagian dari etika memotret, saya juga takut dipatuk :)

Semoga bermanfaat buat FK-wan.

(Ukirsari Manggalani/NGT)

Jurnalis Indonesia Menang Kate Webb Prize

Hari ini, agensi berita dunia Agence France-Presse (AFP) mengumumkan jurnalis yang menerima penghargaan Kate Webb. Sebuah penghargaan bergengsi bagi jurnalis di kawasan Asia. Kate Webb sendiri adalah jurnalis wanita kelahiran Selandia Baru yang bekerja untuk AFP. Liputan Kate Webb mengenai perang dan kejadian besar lainnya telah mengantarkan Kate Webb menjadi reporter terbaik yang pernah bekerja di AFP.

Dalam release elektronik tentang penghargaan Kate Webb yang disampaikan oleh direktur komunikasi AFP, Gaelle Charbonnier menyebutkan jurnalis yang berhak menerima penghargaan tersebut adalah Stefanus Teguh Edi Pramono, jurnalis asal Indonesia.

Stefanus Teguh Edi Pramono bersama tentara pembebasann Suriah. (foto Tempo)

Reportase Stefanus Teguh Edi Pramono mengenai konflik di Suriah tahun 2012 serta peredaran narkoba di Kampung Ambon, Jakarta telah mengantarkan namanya sebagai pemenang dalam penghargaan bergengsi yang diadakan oleh AFP.

“Jurnalisme investigasi dinegeri ini seperti membuka kotak Pandora. Dan jurnalisme investigasi di negeri ini seperti tambang emas” ungkap Pramono dalam rilis elektronik yang dikeluarkan oleh AFP.

Pramono saat ini bekerja untuk Tempo. Liputannya tentang Narkoba di Jakarta dan konflik di Suriah pada tahun 2012 berhasil menjadi reportase terbaik yang dilakukan oleh jurnalis di Asia. Berita selengkapnya bisa di baca di website AFP

Atas kemenangan ini, Pramono berhak mendapat penghargaan sebesar 3000 Euro atau jika dirupiahkan angkanya mencapai Rp 38 juta. Dan yang terpenting, Pramono berhasil membawa nama Indonesia dijajaran terdepan dalam jurnalisme investigasi di Asia.

Nah fk-wan, tertarik untuk membuat foto investigasi juga ? Ayo, siapa tahu bisa diikutsertakan untuk penghargaan serupa. Sekali lagi selamat buat Pramono, dan semangat membuat cerita foto bagi fk-wan.

Anak Desa, Prestasi Dunia

Letaknya jauh di bagian utara negeri ini, mungkin dari Ibukota Jakarta menempuh perjalanan panjang ribuan kilometer hingga kaki berlabuh disini. Adalah Pulau Kawio, menjadi bagian dari Kabupaten Kepulauan Sangihe yang menyimpan potensi luar biasa. Tidak hanya alam nan elok dibalut pesisir berpasir putih, namun yang lebih penting dari itu potensi generasinya yang sukses mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.

Diana Poae, murid sekolah dasar di SD GMIST Smirna Kawio yang mengenalkan Kawio kepada pembaca National Geographic diseluruh jagat. Diana Poae patut berbangga atas pencapaian yang diraihnya setelah menjadi runner up dalam International Photo Contest for Kids 2012 yang diadakan oleh National Geographic Kids.

Apa gerangan foto yang dihasilkan Diana Poae ?

Adalah Bintang Laut dalam botol dengan latar beberapa anak bermain pasir ditepian laut nan jernih.

Foto Bintang Laut dalam botol karya Diana Poae menjadi runner-up dalam lomba foto tingkat dunia National Geographic Kids.

Secara fotografi, Diana Poae lincah bermainan angle, komposisi, serta elemen menarik yang dimasukkan kedalam fotonya. Bintang Laut dalam botol, dunia anak yang ceria dan penuh dengan hal-hal  menyenangkan tergambar dari foto yang dihasilkan oleh Diana Poae.

Berbekal kamera pinjaman dari gurunya, Ertina Priska Erlayas Sebayang dari Indonesia Mengajar, Diana Poae telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi halangan bagi anak yang jauh dari ketersediaan alat dan informasi bisa berprestasi tinggkat dunia.

Kita yang hidup dengan ketersediaan informasi dan peralatan yang sudah memadai, tak ada salahnya menjadikan Diana Poae sebagai inspirasi untuk berkarya dalam fotografi. Acap kali kita kehilangan semangat untuk berkarya atau lupa akan hal-hal kecil saat berusaha mengejar hal besar.

Diana Poae hanyalah siswa biasa ditepian batas Nusantara yang berhasil membawa nama Indonesia ketingkat dunia.

Seperti Diana, tentunya kita bisa berbuat baik juga melalui fotografi. Yang perlu dijaga adalah semangat berkarya. Selamat memotret dan berkarya, kawan.