Arogansi Pemotret dan Etika Fotografi

Text: Bernard T. Wahyu Wiryanta Foto:  Zulkarnaen SL / FOTOKITA

Kejadian yang selalu terulang dan membuat sedih adalah ketika ada upacara keagamaan yang menarik untuk difoto seperti Waisak di Candi Borobudur dan pelaksanaan Shalat Ied di beberapa tempat khusus yang spesifik dan lain daripada yang lain. Juga beberapa perayaan adat lain.

Biasanya prosesi ini akan menarik minat para pemotret untuk mengabadikannya dalam bentuk foto. Tapi yang paling parah adalah upacara Waisak di Borobudur. Tidak seperti 15 tahun yang lalu ketika saya meliput upacara di Candi Budha terbesar di Asia Tenggara ini. Waktu itu masih sedikit pemotret dan masih santun dan menghargai prosesi upacara ini.

Setelah era digital, dan hoby fotografi menjadi murah, akhir-akhir ini jumlah pemotret di Candi Borobudur membludak. Seolah-olah kegiatan fotografi ini sudah menjadi bagian dari ritual Waisak ini sendiri. Celakanya para pemotret ini sudah tidak lagi menghargai prosesi keagamaan ini, seolah-olah para jemaat yang sedang berdoa ini menjadi obyek wisata yang dengan seenaknya bisa difoto secara frontal.

Para Bikhu yang sedang melakukan ibadah ini sudah mulai terganggu dengan polah ribuan pemotret yang berebut mencari momen. Bahkan beberapa ada yang sengaja melanggar batas dan memotret mereka hadap-hadapan, tanpa sopan santun dan etika sama sekali. Kadang menggunakan lensa normal, seperti mau memotret makro wajahnya saja.

Selain di Borobudur, kasus serupa sering juga terjadi ketika Shalat Ied di Sunda Kelapa. Kasusnya sama, umat Muslim yang sedang beribadah diganggu oleh para pemotret.

Selain upacara keagamaan, beberapa upacara adat di beberapa daerah pun demikian.
Kadang beberapa bulan kemudian foto-foto tersebut kemudian muncul di Kalender, iklan, atau media lainnya. Beberapa juga ada yang menang lomba foto dan mendapat hadiah sampai jutaan rupiah. Pertanyaan saya, apakah ketika memotret mereka meminta izin dan memberitahukan penggunaan foto ini ke depan.

Sesuai UU Hak Cipta, foto yang menampilkan orang berapapun jumlahnya harus mendapat izin dari orang yang ada dalam foto tersebut. Jika kemudian tanpa izin dan dituntut maka pemotret bisa kena sanksi pidana penjara dan/atau denda.

Tapi buat saya, yang memprihatinkan bukan masalah pelanggaran hak ciptanya, tapi masalah etika para pemotret yang sudah dalam taraf mengganggu orang yang difoto, terutama dalam upacara keagamaan.

Tips fotografi petualangan dari Tyler Stableford

Tyler Stableford/Purwo Subagiyo

Apa yang tersirat dibenak Anda ketika pertama kali mendengar istilah fotografi petualangan? Mungkin bagi sebagian fotografer, fotografi petualangan terdengar masih asing. Namun demikian,  genre fotografi ini ternyata diminati dan ada beberapa nama besar fotografer di Indonesia yang juga menggelutinya.

Sabtu 5 mei 2012 kemarin, bertempat di epicentrum XXI kuningan Jakarta, dunia fotografi Indonesia patut berbangga karena fotografer petualang ternama,  Tyler Stableford mengadakan seminar foto untuk pertama kalinya.

PT. Datascrip sebagai pihak penyelenggara tidak salah mengundang Tyler sebagai pembicara utama. Karya Tyler telah meraih banyak penghargaan hingga Men’s Journal menjulukinya sebagai salah satu dari 7 fotografer petualangan terbaik dunia.

Dalam kesempatan seminar tersebut, Tyler yang tinggal di Aspen Colorado membagi tips dan trik dalam menggeluti fotografi petualangan. Tinggal dalam lingkungan ekstrim pegunungan salju memudahkannya dalam bereksperimen menghasilkan foto-foto bertema-kan petualangan yang memukau.

Berikut ini lima tips dari Tyler Stableford untuk menghasilkan foto petualangan yang baik:

1.       Memotretlah ke arah matahari

http://www.tylerstableford.com/

Jangan pernah ragu untuk mengarahkan kamera kea rah matahari. Aturlah komposisi dengan matahari sebagai penghias utama gambar Anda. Matahari secara tidak langsung akan memberikan dimensi pencahayaanyang berbeda terhadap foto Anda terutama untuk efek lens flare.

2. Memotret dengan memajukan “depth of field”

http://www.tylerstableford.com/

Selalu fokus dengan pesan yang ingin disampaikan dalam foto. Selektif terhadap fokus objek foto. Gunakan permainan ruang tajam kedalaman foto untuk menghasilkan foto yang baik. Majukanlah unsur foto utama Anda dan buatlah foto yang tidak mendukung dengan efek blur dengan bermain ruang tajam.

3.       Jauhkan lampu kilat dari bodi kamera.

http://www.tylerstableford.com/

Dengan menggunakan lampu kilat di bodi kamera makan akan menghasilkan foto yang datar, seperti snapshot. Selalu hindari pemakaian lampu kilat dari bodi kamera. Gunakan pencahayaan lampu kilat yang jauh dari kamera. Lampu kilat bisa digunakan dikanan atau kiri objek dan bahkan di latar belakang objek agar menghasilkan foto yang kreatif dan berdimensi.

4.       Jangan letakan obyek foto di tengah gambar.

http://www.tylerstableford.com/

Foto yang baik tidak selalu menempatkan objek foto tepat di tengah gambar. Gunakan ruang lain selain ditengah foto seperti kanan dan kiri atau sudut atas dan bawah.

5.       Gunakan lensa lebar dan panjang.

http://www.tylerstableford.com/

Untuk hasil foto yang terlihat baru dan berbeda, gunakan lensa sudut lebar dan bahkan telephoto. Dengan menggunakan lensa lebar foto akan terlihat sangat besar dan bisa merekan kemegahan suatu objek. Jangan takut juga bermain dengan telephoto. Lensa telefoto dengan minimum 200mm bisa mendekatkan objek dan mengisolir foto latar belakang agar menjadi kuat dan lebih menarik.

Untuk menikmati karya foto Tyler yang lain silakan berkunjung ke situsnya: http://www.tylerstableford.com/

Salam
Purwo Subagiyo

Dipersiapkan, Kamera Terbesar di Dunia

lensa,kamera
Steve Hamblin/Corbis

Kamera yang akan menjadi bagian dari teleskop, tengah dibangun dan diperkirakan akan selesai pada 2014 mendatang.

Kamera digital terbesar di dunia, baik secara fisik dan kapasitas, akan segera terealisasi. Kamera yang akan menjadi bagian dari Large Synoptic Survey Telescope (LSST) sekarang telah memasuki fase desain. Ini adalah langkah awal untuk perakitan yang akan memakan waktu dua tahun.

Kamera ini nantinya akan mengambil foto-foto dari benda yang ada di luar Bumi. LSST akan melakukan survei selama tiga malam dan mengambil gambar yang setara dengan 800.000 foto berkapasitas delapan megapixel.

Selama tiga malam itu, LSST akan mengambil data sebanyak 30 terabytes tiap malamnya. Kamera yang mampu mengambil gambar dengan spesifikasi seperti itu adalah kamera dengan bobot tiga ton dan mampu menangkap area dengan luas 49 kali luas Bulan dalam satu frame. Gambar lebar dan dalam ini akan menangkap setiap benda yang dekat dengan bumi, dari dark matter hingga dark energy.

DOE dan National Science Foundation yang turut membantu dalam pembangunan kamera ini akan selesai pengerjaan pada tahun 2014. Walaupun masih dalam tahap desain, beberapa bagian kecil mulai dilakukan. Seperti pemasangan cermin sebesar 8,4 meter dan pembangunan rumah teleskop di Cerro Pachon, Chili Utara.
(Arief Sujatmoko. Sumber: popsci)

Introduction to Night Photography

When speaking about night photography and what there is to it, the first thought is long exposure, car light trails, etc. While this is correct, there is a lot more to night photography and since we have more time for our exposure, this might mean endless fun.

The essentials: tripod, remote and gloves

It is correct to start thinking long exposure for night photography, and therefore this might seem trivial, but no need to read further if you are not ready to carry a tripod for night photography. There is no long exposure without a stable support for your camera.
Besides a good sturdy tripod, a remote control is very handy. I typically prefer the wired controls rather than infrared for two reasons:

* Battery sometimes fail and having the wired exempts you from one point on your checklist before going out
* Settings on your camera might need to be changed to turn on the infrared receiver whereas the wired control always works; you don’t want to miss out on that shot just because your camera settings were reset (on turn off or timeout)

Lastly, temperatures at night drop significantly and unless on a nice summer night, you don’t want to be taken by the cold and would prefer to be comfortably covered so that you can take all the time you want for your shots. The most important piece is your gloves. Carry them with you as you will probably be holding your (wired) remote control out for most of your shooting session. Put them on early, before being cold as the cold will last much longer after you have them on.

A few techniques

Zooming

Zooming is a simple technique that consists changing the focal length (i.e. zooming) while the shutter is open. As you are zooming in, the elements that were in the center of your picture are moving outwards (when zooming out, the elements from the corners move towards the center). In order to realize this shot properly, start from a known position with a known exposure time.

Take the basic shot and check that everything is right. For instance, in the picture of the UN headquarters, start by framing properly the building, and exposing for 4 seconds.

Think about what you want to add by zooming. Here we wanted to add the light trails and the light mark at the end. So we added 2 seconds, took the shot again and started zooming in approximately after 4 seconds (the base shot) for one second and let the lights mark on the zoomed in position for the last second.

Everything is approximate and you will have to try a couple of times before getting the desired result but plan your shot and try to envision the result before shooting and you will be amazed by the results. One more tip: position your hand on the zoom ring prior to beginning the exposure, you will avoid the camera shake when coming in contact for zooming and ensure a smooth zoom.

Light Painting

You can use a light to paint elements of the shot that you would want to brighten for your shot. Typically you will use a long shutter speed to allow yourself time to turn on the light and paint. You can experiment both with direct light on the shot or a projected light, with a flashlight, an off camera flash or any light emitting source. In the example here, we went to a 20 second exposure and made sure that the background was properly exposed. Then, with a flash light we wrote I [heart] NYC in the air.

Timing and patterns

While doing these exercises you will realize that at night timing is everything. I assumed you are also carrying a watch or a cellphone to use as stopwatch. Check what is around you and how you could take onto a shot events that are not supposed to appear together.

I believe, one of the best examples would be a traffic light. Each of the three colors alternate but a long enough exposure will make all three appear together.

For this shot, start by measuring the length of the yellow (here 3 seconds) multiply by 3 and take the closest shutter speed available on your camera (here 10 seconds). Now measure the length of the green light (here 20 seconds) and next time the light turns green, start exposing a bit before second 17 (20-3). As a result you will capture 3 seconds of green, 3 seconds of yellow and 3 seconds of red (and 1 second lost somewhere in the approximation).

Mirror Lock

This is more a tip than a technique but you will notice that your camera moves as the mirror is moving inside. Some offer the option to lock the mirror, that is, to open the shutter before the capture. Then another press on the remote will start the capture. The first few times, you will forget about the option but it is a neat feature and you will easily notice the improved sharpness of your pictures.

While you might have read about these techniques already, there is nothing better than going out and trying them yourself. We work with our guests on these techniques during our New York by Night photo tour and it is interesting to notice how many guests had heard about the techniques but had never tried them. Once they try, they are so amazed and so much in love that they want to apply them at each opportunity.

Sam Levy is the founder of citifari. citifari offers photo tours in New York City. Structured as a 2-1/2 hour practical workshop, citifari tour helps you get comfortable with your camera settings and take great shots in New York City. Connect with them at their website, on Facebook, Pinterest, Twitter or Tumblr.

Source & Read more: http://digital-photography-school.com/introduction-to-night-photography

Lebih dekat dengan fotografer National Geographic

Siapa yang tak kenal dengan majalah National Geographic? Majalah dengan ciri khas kuning dan visualisasi foto yang memukau ini selalu memiliki pencintanya sendiri. Tak terkecuali saya, sampai-sampai saking bagusnya karya foto di dalam majalah ini membuat sebagian orang menyebutnya sebagai majalah fotografi.

Tidak salah juga sih kalau masih ada orang yang menyebut majalah ini majalah fotografi. Sejak didirikan tahun 1.888 silam, hingga saat ini peran foto memang selalu menjadikan ciri yang utama dari setiap terbitannya. Mungkin kalau dirunut sejak awal berdiri, ada ratusan fotografer yang telah berkontribusi untuk majalah ini. Banyak nama besar lahir ketika berkarya dalam bingkai kotak kuning, tentunya mereka adalah orang-orang hebat dibalik lensa kamera yang merekam banyak momen berharga.

Nah yang jadi menarik adalah, bagaimana kalau semua fotografer tersebut berkumpul dalam satu kesatuan dengan benang merah persamaan, yaitu kotak kuning? Mungkin jawabannya adalah The Photo Society.

Seperti dikutip dari penjelasan situsnya:

About The Photo Society

Explaining the diversity of this group is the easiest way to answer the question, “How do I become a National Geographic photographer?” I usually answer this question by saying: “It is not easy or glamorous (see Reality Check). And this is not where you begin your career. You are competing with world-class documentary photographers and within that genre there are men and women who are the absolute best at their specialty. There are a number of specialists — underwater photographers with different skills — one works in very deep water; a couple photograph at all depths and temperatures; one dives in caves, another holds his breath under whales; and then there is a guy who just works in puddles. One photographer travels all over the world to strap a big fan on his back to shoot aerials. There is a bug guy, an archeology specialist, and a number of folks that photograph critters. There are climbers, conflict photographers, portrait photographers and landscape specialists.” Then I usually end with how amazed I am that I can survive in this crowd as a generalist… in such esteemed company.   Randy Olson

Menurut saya, dengan hadirnya the photo society akan memberikan banyak manfaat untuk semua pihak. Tidak hanya bagi fotografer, namun juga bagi pembaca secara luas. Selain nostalgia, diskografi karya fotograferpun menjadi medium yang menarik untuk disimak. Selain tentunya bisa menambah “order” kerja tambahan dari pihak yang tertarik karena memang karyanya juga baik.

Members – The Photo Society

Nama-nama besar fotografer National Geographic dengan mudah tersaji disitus ini. Kita tinggal menyimak karya yang paling disukai lalu bisa belajar dari mereka secara langsung di web. Terdapat data lengkap yang bisa dihubungi kepada fotografernya langsung. Cukup dengan minimal 1 kali membuat liputan foto di majalah NG sudah bisa langsung bergabung, tentunya setelah melewati tahap verifikasi. Sayangnya untuk list member yang ada, saya belum melihat nama fotografer dari Indonesia. Mudah2an saja bisa dan segera ada yang bergabung.

Semoga dengan terciptanya situs ini bisa membawa banyak manfaat. Tidak hanya untuk proses inspirasi, tetapi juga hingga proses eksekusi. Sehingga nantinya pembaca bisa benar-benar menjiwai semangat dari NG itu sendiri. Kent Kobersteen (Director of Photography at National Geographic magazine /1987-2005) menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang fotografer NG yang baik ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.

Menurut Kobersen, dia tidak akan memilih fotografer yang memiliki “mata” yang bagus. Dia akan memilih fotografer yang bisa bekerja keras. Baginya, fotografer yang memiliki “mata” yang bagus tidak akan berguna kalau ia malas :) Nah kira-kira seperti itulah gambaran singkatnya. Alhasil, karya foto disitus ini dengan nama besarnya adalah sebuah proses panjang dengan jerih payah hasil kerja keras.

Salam
Purwo Subagiyo

Sumber:

  • http://thephotosociety.org
  • http://www.petapixel.com/2012/02/23/what-it-takes-to-be-a-national-geographic-photographer/

Event: Kontes Design Infografik

Tentang Infografisme

Infografisme adalah kontes desain infografik pertama di Indonesia yang terbuka untuk umum. Kontes ini dibuka mulai April 2012 dan akan ditutup pada 16 Mei 2012. Karya-karya yang telah masuk akan dipilih dan ditentukan pemenangnya.

Penjurian kontes Infografisme akan dilakukan oleh sejumlah praktisi di bidang desain grafis dan video. Informasi pengumuman pemenang bisa Anda peroleh pada pada 23 Mei 2012 di web ini dan di situs salingsilang.com.

Kontes ini akan memilih 2 (dua) orang pemenang, 1 (satu) pemenang untuk kategori Videografik dan 1 (satu) pemenang untuk kategori Infografik.

Peraturan

Kontes terbagi atas 2 kategori: Infografik dan Videografik. Kontes ini dimulai April 2012 dan ditutup pada 16 Mei 2012.  Penjurian akan dilakukan pada 23 Mei 2012 dan pemenang akan diumumkan pada 26 Mei 2012.

Yang dinilai dari infografik atau videografik, meliputi: proses, perkembangan, perbandingan, peta masalah, warna, jenis huruf, layout dan sistematika penjabaran data, serta pesan yang disampaikan (cerita dan unsur informatif).

KONTES INFOGRAFIK

1. Kontes terbuka untuk umum
2. Tema infografik bebas
3. Infografik adalah hasil orisinal dan belum pernah dilombakan sebelumnya
4. Penilaian infografik didasarkan pada orisinalitas ide, desain, kreativitas, dan keakuratan data.
5. Diperkenankan untuk menggunakan data dari luar negeri dengan tetap menyertakan sumber data di dalam infografik
6. Format Infografik bisa landscape atau portrait dengan ukuran maksimal A4
7. Diharapkan melampirkan judul dan deskripsi singkat mengenai Infografik tersebut
8. Setiap peserta maksimal mengirimkan 3 karya infografik.
9. Apabila ada foto di dalam Infografik dimohon untuk menyebutkan sumber foto.
10. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa digugat.

KONTES VIDEOGRAFIK

1. Kontes terbuka untuk umum
2. Peserta hanya bisa mengirimkan karya videografiknya melalui e-mail.
3. Tema videografik bebas.
4. Penilaian didasarkan pada orisinalitas ide, desain, kreativitas, dan keakuratan data.
5. Videografik adalah hasil orisinal dan belum pernah dilombakan sebelumnya
6. Diperkenankan untuk menggunakan data dari luar negeri dengan tetap menyertakan sumber data di dalam videografik.
7. Videografik sudah diunggah oleh peserta ke Youtube atau Vimeo, lalu kirim link video tersebut dalam e-mail
8. Diharapkan melampirkan judul dan deskripsi singkat mengenai Videografik tersebut.
9. Setiap peserta maksimal mengirimkan 3 karya videografik.
10. Apabila di dalam video terdapat musik atau lagu yang diambil dari artis/penyanyi, maka peserta dimohon untuk menyebutkan sumbernya.
11. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa digugat.

PRASYARAT UMUM

1. Kontes ini terbuka untuk umum, WNI, perorangan atau kelompok
2. Kontes ini tertutup bagi panitia, dewan juri, karyawan Salingsilang.com dan keluarganya
3. Kontes ini tidak memungut biaya apapun
4. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu infografik
5. Peserta wajib melampirkan surat pernyataan yang menjelaskan bahwa karyanya belum pernah dipublikasikan dan merupakan hasil karya sendiri
6. Melampirkan data diri dan foto copy KTP, SIM, Paspor atau Kartu pelajar
7. Infografik bisa langsung diunggah ke website resmi “Infografisme”
8. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 26 Mei 2012 di situs infografisme.com ini dan salingsilang.com

Hadiah Kontes Infografisme untuk 2 pemenang, masing-masing berupa 1 unit radio kayu unik Magno Cube & Rec WR03-RECT special edition.

Pengiiriman karya: http://infografisme.com/submit

Info lengkap:

Panitia Kontes Infografisme
TW: @IDInfografisme
FB: infografisme
E-mail: kontak@infografisme.com
Telp: 021-7250616
Faks: 021-7262154

Inovasi Fotografis dari Lytro

Persaingan dalam dunia fotografi tidak pernah berhenti. Setiap perusahaan memiliki divisi riset yang menentukan inovasi baru yang menjadi fitur kamera masa depan. Inovasi itu tidak sebatas pada kamera profesional saja. Nokia bahkan akan merilis ponsel berkamera 41 megapiksel dalam waktu dekat. Canon juga menambahkan fitur canggih Moiré filter dalam 5D MarkIII yang sangat berguna bagi para videografer.

Tapi di balik persaingan megapiksel dan kecanggihan sensor, masih ada ranah lain yang bisa dikembangkan. Apalagi menyangkut fotografi untuk hobi. Salah satunya adalah kamera ajaib Lytro, yang membebaskan kita untuk memilih titik fokus bahkan setelah gambar diambil.

Teknologi yang dibawa Lytro ini disebut light-field photography, dimana kamera bekerja dengan mengumpulkan cahaya dari berbagai arah dan kemudian diproses oleh software yang ada pada kamera sebagai data 3D dari apapun yang difoto. Terobosan ini memungkinkan pengguna untuk mengambil foto tanpa harus puyeng menentukan fokus terlebih dahulu.

Kamera dengan kemampuan radikal ini diproduksi oleh sebuah perusahaan asal Silicon Valley dan dijual seharga USD 499 (sekitar Rp 4,5 juta) untuk model berkapasitas 16GB. Sedangkan untuk model dengan kapasitas 8GB dihargai USD 399 (sekitar Rp 3,6 juta).

Dalam situsnya, kamera berbentuk balok metal mirip cerutu ini menawarkan apa yang disebut “cara baru dalam mengambil dan merasakan foto”. Tampilan antarmuka Lytro sangat sederhana, menyamarkan cara kerjanya yang rumit. Kontrol yang tersedia adalah tombol power dan shutter, serta strip mungil untuk mengatur perbesaran gambar (zoom). Lytro juga dilengkapi sebuah layar sentuh 1,5 inch yang berfungsi untuk membidik dan mengontrol eksposur. Desain Lytro begitu mungil dan elegan, cocok bagi semua level pengguna kamera. Meskipun beberapa keluhan muncul karena desainnya yang terlalu kecil ini, sehingga dirasa tidak ergonomis.

Sayang kamera ini hanya mampu menghasilkan gambar sekitar 1 megapiksel saja. Untuk kepentingan komersial tentu saja ini bukan kamera yang tepat. Tapi bagi penghobi dan penggiat social media, kamera ini bisa jadi gawai yang seru untuk mengabadikan momen yang ingin Anda bagi.

Menurut beberapa situs, kamera Lytro mulai dijual untuk umum pada bulan April atau Mei mendatang. Kunjungi juga situs Lytro untuk mendapat informasi lebih jauh tentang kamera unik ini.

Indonesia di Mata Co Rentmeester

Pada tahun 1950, majalah fotografi LIFE yang pernah menerbitkan edisi khusus tentang Indonesia. LIFE adalah majalah terkemuka untuk urusan fotojurnalistik, mereka memberi penugasan pada Co Rentmeester untuk berkelana keliling Indonesia dan memotret keadaan sosial budaya di dalamnya.


Co Rentmeester berfoto bersama dengan anak-anak Bromo 1968

Saat itu Indonesia masih muda. Majalah LIFE menyebut negara ini sebagai zamrud yang memanjang di khatulistiwa, negara yang mengagumkan, indah tiada tara, dan subur.

Rentmeester berkeliling Jawa, menembus rimba Kalimantan tempat habitat Orangutan, hingga menyaksikan kekayaan budaya Bali yang tak mudah luntur. Beberapa foto Rentmeester mengindikasikan proses pengambilan yang intim. Sebuah foto tentang kelahiran bayi di Jawa tentu saja diambil karena melalui proses pendekatan yang tidak gampang. Selain itu foto ini kuat dari segi isi, karena mampu menggambarkan ledakan penduduk Jawa yang masih terasa hingga saat ini.

Namun akhirnya Rentmeester tidak bisa lepas dari mata seorang ‘bule‘ yang sedang mengagumi kemegahan ‘mooi indie‘. Foto-foto lanskap yang ia hasilkan memiliki seluruh elemen tersebut: barisan sawah berundak, gemunung yang tampak di balik halimun, atau seorang gembala yang sedang menuntun kerbau. Sebuah romantisme yang tak pernah hilang dari permukaan selembar postcard tentang Indonesia.

Foto-foto milik Rentmeester adalah dokumentasi yang menarik tentang Indonesia yang masih muda. Ia memotret dengan jujur dalam skala estetika yang pas. Tidak kurang, juga tidak lebih.

Ini adalah beberapa koleksi foto Co Rentmeester tentang Indonesia, diambil dari arsip majalah LIFE. Mana foto yang paling Anda suka?












NB:
Semua foto diambil dari arsip digital Majalah LIFE.
Baca juga buku “Three Faces of Indonesia” yang merupakan kumpulan esai foto Co Rentmeester selama berkelana keliling Nusantara.