Memasuki Era Jurnalisme “Hape”

Pin It

Pertanyaan yang masih selalu saya dengar setiap menjadi pembicara pada sebuah seminar jurnalistik di kampus adalah: “Kamera dengan spesifikasi bagaimana yang layak menjadi alat jurnalistik?”

Kesibukan di stasiun Duri, diabadikan dengan telepon selular. (Yunaidi/NGI)

Dan untuk informasi FK-wan, jawaban atas pertanyaan itu bisa berubah dari waktu ke waktu. Jawaban pada tahun 1990 atau bahkan tahun 2000 sangat berbeda dengan jawaban hari ini. Dan, untuk hari ini, jawabannya adalah tulisan ini.

Hal yang nyata adalah, saat ini teknologi fotografi sudah sedemikian maju, bahkan jauh di atas lima tahun yang lalu. Telepon genggam atau handphone atau HP atau hape, kini hampir tidak ada yang tidak dilengkapi kamera. Tidak heran, kini bisa dikatakan hampir tiap orang membawa kamera kemana-mana.

Bagaimana hasil pemotretan dari kamera hape saat ini? Hasil pengamatan saya atas fotografi hape (hape buatan 2013 ke atas) adalah: foto yang dibuat dengan hape atau kamera saku atau kamera DSLR, tak bisa dibedakan mata biasa dalam tiga kondisi: 1. Tidak dicetak terlalu besar. 2. Yang dipotret tidak bergerak terlalu cepat. 3. Saat pemotretan cahaya mencukupi.

Untuk poin pertama, jurnalisme jelas tidak butuh cetakan terlalu besar. Kalau diangkakan, cetakan besar itu adalah di aras 30 x 45 sentimeter. Dengan angka cropping pun, foto jurnalistik memang tidak pernah terlalu besar.

Pada poin kedua, dari pengalaman saya, acara-acara di jurnalisitk mayoritas tanpa gerakan yang berarti. Hanya foto-foto olahraga yang belum mungkin dipotret dengan hape. Sementara poin ketiga soal cahaya, defenisi cahaya cukup adalah manakala FK-wan memakai kacamata hitam, tetapi tetap dapat melihat dengan jelas, itu artinya cahaya cukup.

Secara umum, kini bisa saya katakan: selamat datang era jurnalisme hape. Hape adalah perangkat jurnalistik seutuhnya baik dari segi borkomunikasi maupun sebagai kamera.

Satu hal yang paling penting dalam fotografi hape adalah, karena penutup lensa kamera hape tidak terlindungi, dia sering kena jari berminyak. Foto yang dihasilkan lensa berminyak tentu sangat buruk. Maka, biasakan selalu membersihkan penutup lensa hape Anda sebelum memotret.

Arbain Rambey (Kompas, Selasa, 9/9/2014)

Samsung NX3000: Bantuan Mumpuni Bagi Pejalan Solo

Pin It

Samsung NX3000: ringan, praktis dan tidak memakan banyak tempat.

Bagi saya sebagai solo traveller atau pejalan solo, peranti untuk mengabadikan moment sepanjang penjelajahan mesti memiliki beberapa kriteria. Paling penting: ringan, praktis dan tidak memakan banyak tempat. Terlebih karena acuannya adalah travel light. Semua serba ringkas, bila perlu hanya membawa satu ransel.

Kedua, selain ringan, kamera mesti bisa memberikan hasil memuaskan bila memotret cepat. Semisal merujuk pengalaman saya dahulu, yaitu memotret koreografi para tentara di perbatasan Wagha, yang memisahkan India dan Pakistan. Gerak kaki mereka begitu rancak dan cepat. Atau saat memotret aktivitas di kedai dan warung makan tradisional. Kegiatan ini juga berlangsung cepat.

Saat memegang Samsung NX3000, saya langsung terpikat pada sosoknya. Bagi seorang fotografer profesional, fungsi menjadi kajian utama. Tetapi karena saya seorang pejalan dan kembali kepada kebutuhan yang tadi disebutkan, bentuk ramping kamera ini merupakan hal pertama untuk dikomentari.

Dengan bodi didesain retro warna cokelat (brown), sosok ramping Samsung NX3000 16-20mm terasa ringan di tangan. Strap pegangan bisa dipasang di satu atau kedua sisi, pilih saja yang paling nyaman saat ditenteng.  Permukaan bodi bertekstur, tak ubahnya seperti grip.

Keasyikan pertama, pengguna tidak perlu repot membidik lewat view finder. Tersedia layar monitor lebar dilengkapi indikator [berupa bidang-bidang kecil, satu atau banyak, bergantung feature yang dipilih] berwarna hijau [atau merah bila belum fokus].  Ingin membuat self-portrait atau lebih beken disebuat sebagai selfie, cukup angkat monitor [swivel mode] dan arahkan ke wajah kita. Tekan shutter dan monitor akan menghitung mundur. Say cheese dan jadilah potret kita.

Foto Selfie dengan Swivel Mode

Hasilnya tergolong memuaskan.  Ini keasyikan kedua, saya padukan kemampuan Samsung NX3000 membuat self-portrait dengan feature “beauty face”.  Tujuannya sepele, untuk “mengurangi” ketajaman profil jerawat di wajah. Dari jepretan saya, potret muncul sesuai keinginan! Walau bebas dari make-up apapun, kulit saya tampak lebih segar, bersemu merah dan mulus tanpa bintik-bintik jerawat.

Feature lain yang saya coba adalah “food”. Keberadaan opsi ini penting bagi saya, karena dapat memunculkan sosok hidangan atau menu dengan utuh, menonjol atau memiliki depth-of-field. Sehingga bila dipasang untuk menulis resensi tempat bersantap bakal tampak menarik, membangkitkan selera dan keinginan untuk mencoba. Saya pun mengabadikan sepotong pai apel dan segelas es cappuccino di kedai minum Saudagar Kopi, kawasan Sabang, Jakarta Pusat dan puas dengan bidikan ini.

Foto makanan dengan Food Mode

Beberapa eksperimen dari feature yang tersedia saya coba saat mewawancarai seorang travel writer ternama. Ekspresi beliau saat memaparkan pengalaman dan berbagi ide pun tertangkap utuh dengan  mode Aperture Value (AV, aperture priority auto exposure) yang saya terapkan untuk pemotretan dalam ruangan atau indoor.  Untuk pengubahan fokus dekat dan jauh, cukup tekan tombol (+) atau (-) yang terdapat pada sisi kiri lensa dimensi 16-20mm.

Kembali lagi kepada terminologi saya sebagai pejalan solo, Samsung NX3000 sangat mumpuni menjadi kawan dalam membuat dokumentasi perjalanan. Sebagai catatan, memory card yang digunakan adalah micro SD, dapat berbagi pakai dengan ponsel cerdas saya. Ini juga terhitung sebagai suatu keasyikan karena efisien dengan peranti yang dibawa saat travelling.

Berikut hasil jepretan dari Samsung NX3000 lainnya:

R. Ukirsari Manggalani, Solo Traveler.

Editor National Geographic Traveler

Jalan Panjang Canon, 80 Tahun Inovasi Demi Kemajuan Teknologi Fotografi

Pin It

Canon, sebuah nama yang tentunya sudah tak asing lagi diteling FK-wan. Salah satu produsen kamera yang menguasai pasar fotografi modern ini tentu sudah menemani perkembangan dunia fotografi yang mencapai usia ke-175 tahun.

80 tahun Kwanon.

Pada tahun ini, Canon merayakan ulang tahun ke-80 sejak kelahiran kamera prototipe Kwanon. Pabrikan ini terus berinovasi dengan ambisius untuk menghasilkan kamera terbaik di dunia. Sumbangsih Canon untuk kemajuan teknologi di bidang fotografi dan videografi tentunya tak bisa di pandang sebelah mata.

Prototipe kamera ini pertama kali diproduksi pada tahun 1934. Adalah Goro Yoshida yang lahir di Hiroshima yang menjadi tonggak permulaan kamera Canon saat ini. Yoshida yang tidak menamatkan pendidikan SMA nya dan hanya bekerja disebuah perusahaan perbaikan kamera dan film penasaran dengan kamera yang sering diperbaikinya. Dari keingintahuannya akan kamera, muncullah niat untuk membuat kamera sendiri.

Bersama Saburo Uchida dan Takeo Maeda, Yoshida mendirikan Precision Optical Instruments Laboratory yang menghasilkan prototipe kamera 35 mm rangefinder yang diberi nama Kwanon.

Nama Kwanon sendiri diambil dari nama Dewa umat Buddha, yaitu Kwannon Dewa Pengasih. Ini seperti doa bagi orang-orang agar mereka mendapat berkah dari sang Dewa saat mereka bekerja keras untuk menghasilkan kamera terbaik di dunia. Lensanya diberi nama Kyasapa yang diambil dari Mahakyasapa seorang murid dari Buddha.

Pada tahun 1936, dua tahun setelah kelahiran Kwanon dan melewati banyak trial-error, akhirnya mereka meluncurkan Hansa Canon, sebuah kamera 35mm focal plane-plane-shutter pertama. Inilah yang menjadi tonggak permulaan sejarah perusahaan Canon sebagai produsen kamera.

Tahun 1959, Canon memperkenalkan kamera single-lens reflex (SLR) pertama mereka, yakni Canonflex. Selanjutnya pada tahun 1961, Canonet sebuah kamera rangefinder terjual lahir dipasaran.

Seteah keberhasilan mereka dengan menjual Canonflex dan Canonet, produsen kamera ini terus memimpin pasar dengan kamera pupuler mereka seperti F-1 yang diperkenalkan pada tahun 1971. Dan juga AE-1 yang diperkenalkan di pasaran tahun 1976, sebuah kamera SLR pertama di dunia yang dilengkapi dengan microcumpter.

Pada tahun 1987, dengan inovasi teknologi, Canon meluncurkan EOS 650, sebuah kamera SLR pertama di dunia yang mememiliki kemampuan elektronik AF (autofocus).

Pada tahun 1995, EOS mulai memasuki era digital dan terus berkembang hingga saat ini dengan kamera berteknologi tinggi. Tahun 2012, perusahaan ini meluncurkan the Cinema EOS System yang memberikan akses kepada para pelaku kreatif dalam berekspresi dalam visual.

Inilah perjalanan panjang produsen Canon di dunia fotografi. Pencapaian besar yang dimulai dari keinginan untuk menghasil peralatan terbaik dibidangnya. Tentunya Kwanon yang dulu hanya protoripe telah menjelma menjadi Canon yang kita kenal saat ini. Selamat merayakan hal-hal menakjubkan dimasa datang Canon.

Dokumentasi Berkelanjutan ala Dwi Oblo

Pin It

Dwi Oblo dalam peliputan. (Foto: Agus Prijono)

Ada beberapa hukum wajib buat fotografer Dwi Oblo. Salah satunya: selalu menggali informasi lebih dalam selama peliputan.

Itu tak lain untuk menyelami setiap momen yang akan direkamnya. Bercengkerama dengan orang-orang dan bertanya terus-menerus. Rentang pertanyaannya dari yang sepele hingga yang rumit. Intinya: setiap peristiwa punya proses. Dan, Dwi Oblo ingin menyusup dalam setiap proses itu, lalu memotretnya. Kadang-kadang, membuat repot banyak orang—dengan sedikit rasa kesal.

Hal ini terjadi saat dia menjelajahi kawasan panas bumi Ulubelu dan wilayah sekitar Lampung. Tujuannya, mendokumentasikan jejak- jejak tanggung jawab sosial yang telah dikerjakan oleh PT Pertamina (Persero) di sana. Dengan tetap mematuhi prosedur keselamatan, Dwi Oblo menyisir setiap sudut wilayah itu dengan seksama. Bertanya, memotret, bertanya, memotret.

Hukum wajib kedua: jangan segan menerobos segala rintangan. Hasil dari dua hukum wajib itu: ribuan bingkai foto, yang sering membuat dia terkantuk-kantuk memilih dan memilah kala malam usai seharian memotret. Karya Dwi Oblo dapat Anda lihat dan resapi dalam sisipan “Merangkai Alam dan Peradaban Berkelanjutan” di Majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014.

International Photography Contest (IPC) for Kids 2014

Pin It

National Geographic sudah memublikasikan berbagai karya fotografer ternama dunia selama lebih dari 100 tahun dalam majalah dan produk-produknya. Kini, National Geographic memberikan kesempatan untuk anak-anak menjadi generasi penerus Chris Johns, Joel Sartore, dan Annie Griffiths melalui kontes foto tahunannya, International Photography Contest for Kids (IPC).

Tahun 2014 adalah kali keempat National Geographic Kids Indonesia (NG KIDS Indonesia) menjadi penyelenggara IPC di Indonesia. Setelah sempat absen pada tahun 2013, National Geographic kembali menggelar lomba foto untuk anak ini dengan empat kategori baru, yaitu Berani Menjelajah (Dare to Explore), Hewan-Hewan Hebat (Amazing Animals), Liburan Luar Biasa (Wild Vacation), dan Aneh tapi Nyata (Weird but True). Semua kategori berdasarkan rubrik tetap dalam majalah NG KIDS Indonesia.

Peserta IPC adalah anak-anak usia 6-14 tahun. Mereka bisa mengirimkan satu foto untuk setiap kategori di atas melalui e-mail, pos, atau situs Kidnesia.com. Foto-foto yang diterima akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Pemimpin Redaksi NG KIDS Indonesia, Sigit Triwahyu; Fotografer NG KIDS Indonesia, Chris Indra Sinatra; dan Fotografer National Geographic Indonesia, Reynold Sumayku. Para dewan juri akan menentukan juara untuk setiap kategori, sekaligus pemenang grand-prize tingkat nasional. Foto para pemenang nasional tadi otomatis akan diikutkan untuk penjurian IPC tingkat internasional di kantor pusat National Geographic Society (NGS), di Washington, D.C, Amerika Serikat.

Setiap pemenang IPC tingkat nasional akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai Rp1 juta, piala, dan sertifikat. Sedangkan pemenang IPC internasional akan mendapatkan hadiah perjalanan ke Washington, D.C., Amerika Serikat sekaligus tur kantor pusat NGS; serta voucher belanja senilai US$50 dari National Geographic Store.

Pada IPC 2012, jepretan bintang laut di Pantai Raja karya Diana Poae dari Sangihe, Sulawesi Utara berhasil menjadi juara kategori Hewan (Runner-Up) tingkat internasional. Bukan hanya Diana yang menerima penghargaan internasional. Patria Prasasya dari Surabaya pun menerima penghargaan Honorable Mention kategori Humor untuk foto patung kingkong di Batu Zoo, Malang.

Runner-up kategori Hewan tingkat internasional pada IPC tahun 2012: karya Diana Poae dari Sangihe, Sulawesi Utara.

“Mata anak-anak adalah mata hati, mata yang bersih dan jernih. Sedangkan foto adalah sebuah rekaman sejarah. Rekaman sejarah dari mata anak-anak adalah rekaman yang paling jujur yang pernah ada. Harapannya, IPC for Kids ini bisa jadi salah satu penyumbang rekaman sejarah yang jujur seperti adanya,” ujar Sigit Triwahyu.

Periode pengiriman foto IPC 2014 dimulai tanggal 1 Agustus 2014 dan berakhir pada 15 Oktober 2014. Anak-anak bisa mengirimkan foto terbaik mereka lewat:
1. E-mail ke ipc2014@gramedia-majalah.com
2. Pos ke Promosi NG KIDS Indonesia. Kompas Gramedia Building Unit 1, Lantai 4. Jl. Panjang No. 8A, Kebon Jeruk. Jakarta Barat 11530
3. http://microsite.kidnesia.com/ipc2014/

Informasi lengkap tentang cara mengikuti, ketentuan lomba, teknis lomba, dan berbagai aktivitas pendukung IPC 2014 bisa didapatkan pada majalah NG KIDS Indonesia edisi Agustus, September, dan Oktober 2014; situs xykids.kidnesia.com; Twitter @NGKidsID; dan facebook National Geographic Kids Indonesia dengan tagar #ipc2014id

Dani: Manusia Pegunungan, oleh Evi Aryati Arbay

Pin It

Tanpa sadar, barangkali kaum fotografer telah ikut meletakkan corak kehidupan yang berbeda sebagai objek belaka. Datang beramai-ramai dan memotret. Begitu selesai, sebagian fotografer akan berterima kasih dan mengikat tali persaudaraan dengan yang difoto. Sebagian lainnya memberi uang sebagai imbalan. Kedua tipe itu sama juga. Setelah pulang, atau saat di ruang tunggu bandara, kita membuka internet untuk menunjukkan foto-foto itu kepada dunia: inilah kehidupan yang berbeda. Tepuk tangan. Habis perkara.

Dalam banyak situasi, proses pembuatan foto bisa singkat saja dan sesederhana itu. Akan tetapi proses yang dialami oleh masyarakat yang difoto tidaklah pernah sesederhana itu. Masyarakat Dani yang menetap di Lembah Baliem, Papua, telah terpaksa melompat terlalu jauh dan terlalu cepat.

Dari peradaban zaman batu, tiba-tiba menyaksikan burung besi raksasa melayang-layang lalu mendarat di tanah mereka. Dari kehidupan berburu dan meramu, tahu-tahu berkenalan dengan kehidupan budi daya dan bercocok tanam. Dari yang hanya mengenal ubi sebagai makanan pokok, perlahan mulai “diajak” untuk tergantung kepada beras.

Dari yang tahunya tukar-menukar, sekarang tergantung kepada uang. Untuk makan harus membeli. Untuk ini-itu harus membayar. Tentang bagaimana proses yang baik untuk mendapatkan uang atau berkehidupan secara modern, sedikit yang mengajari mereka. Mereka bergulat dengan perubahan yang sangat besar dan mendasar itu hanya dalam waktu puluhan tahun.

Di saat yang sama, datanglah orang-orang kota. Jepret-jepret membuat foto, meminta mereka berpose, lalu—entah siapa yang memulai—memberikan uang sebagai “niat baik” atau “tanda terima kasih”. Orang-orang Dani melihatnya sebagai “cara cepat” untuk mendapatkan uang yang memang semakin mereka butuhkan untuk ikut dalam peradaban modern.

Lain kali datanglah lagi orang-orang dari daerah lain, atau negeri lain. Mereka juga membuat foto-foto. Orang-orang Dani otomatis menuntut mereka membayar pula. Satu kali cekrek bayar sekian. Jurnalis datang untuk mengabarkan, mengambil foto, harus bayar pula. Tidak jarang terdengar cerita dari sana, soal keributan kecil seputar bayar-membayar sehabis memotret.

Buku karya Evi Aryati Arbay yang berjudul Dani: Manusia Pegunungan ini mengajak kita melihat suatu suku yang khas secara lebih mendalam. Sebagai seorang operator wisata, Evi memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat Dani.

Boleh jadi pada awalnya ia pun melihat komunitas ini sebagai objek. Namun, interaksi dan proses perkenalan yang intens—sekitar sepuluh tahun—telah membuatnya lebih berhati-hati. Orang Dani, dan komunitas-komunitas tradisional lainnya, sesungguhnya kurang patut diperlakukan sebagai objek. Mereka adalah subyek yang perlu didengar.

Kedekatan Evi dengan para subyek fotonya tampak, salah satunya, dari pemberian marga di belakang namanya. Evi dianggap keluarga karena sering datang.

Dalam buku ini memang terpampang foto-foto tentang pria Dani yang berpose gagah, garang, sangar, siap berperang kapan saja, hanya berkoteka, asesoris di hidung dan kepala—suatu stereotip. Akan tetapi, dalam buku ini juga terpampang sosok orang Dani yang sedang tersenyum dalam kegiatan kesehariannya. Juga terdapat foto-foto yang menggambarkan lompatan ke peradaban modern dengan sekejap. Foto-foto yang seperti itu tentu tidak dibuat dengan cara datang, foto, bayar, lalu pergi. Itu hasil interaksi yang panjang, dan karenanya memberi gambaran yang lebih mendalam.

Aristides Katoppo, mentor yang memberi kata pengantar dalam buku karya Evi, menyebutkan bahwa sebenarnya Lembah Baliem tidak cocok untuk jenis wisata massal. Sampai sejauh ini, Baliem sebenarnya masih lebih cocok untuk para spesialis yang menghormati budaya lokal.

Memang, salah satu persoalan kita dalam konteks Indonesia sebagai bangsa adalah meletakkan cara pandang yang keliru terhadap suku-suku tradisional. Dengan caranya, Evi berusaha mengambil bagian dalam upaya untuk meletakkan masyarakat Dani sebagai subyek.—Reynold Sumayku

Reynold Sumayku di Twitter

Lomba Foto “Nature & Culture of Lembata”

Pin It

Tema: Nature & Culture | Penyelenggara: Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, NTT & Way 2 East | Lokasi: Lembata, Nusa Tenggara Timur

Ketentuan Umum:

  1. Terbuka untuk umum yaitu warga negara Indonesia dan warga negara asing dan merupakan peserta Festival Adventure Indonesia 2014 di Lembata, NTT.
  2. Way 2 East dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata NTT bisa mempublikasikan hasil lomba (foto dan karya tulis) yang masuk nominasi untuk kepentingan promosi pariwisata Lembata.
  3. Seluruh karya yang masuk ke panitia akan diseleksi oleh pihak juri. Nama-nama pemenang akan diumumkan melalui situs Way 2 East pada tanggal 27 September 2014.
  4. Foto tidak boleh berunsur sadisme/kekerasan, SARA, pornografi.

Ketentuan Khusus:

  1. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 6 buah file foto dalam format JPEG, salah satu sisinya minimal 3000 pixel.
  2. Peserta bebas memilih objek fotografi yang berasal dari Lembata, NTT meliputi alam, ciptaan manusia, adat istiadat, budaya, peristiwa dan sebagainya. Foto dari provinsi lain tidak dapat diikutsertakan dalam penilaian.
  3. Foto yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil foto dari pemotretan menggunakan kamera DSLR & Mirrorless.
  4. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto (tonal dan warna) tanpa mengubah keaslian subjek.
  5. Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto (komposit dan montase) dan menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto.
  6. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh panitia.
  7. Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, diproduksi sejak 24 s/d 27 September 2014 (yang akan dibuktikan dari data exif file foto).
  8. Pemenang wajib menyerahkan file foto asli (raw file) kepada panitia dan menjadi hak milik Dinas Pariwisata Lembata NTT.
  9. Setiap foto harus dilengkapi identitas diri peserta seperti: nama fotografer, judul foto, alamat, nomor telepon/HP, E-mail, dan identitas diri yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang masih berlaku.
  10. Panitia berhak mendiskualifikasi foto peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap tidak memenuhi ketentuan.
  11. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Tata cara pengiriman foto:

  1. Mengisi form data peserta dengan lengkap dan mengunggah foto yang akan dilombakan. Nomor Telepon/HP wajib diisi untuk konfirmasi dan verifikasi finalis.
  2. Pengiriman karya dimulai tanggal 24 September 2014 dan ditutup tanggal 27 September 2014 pukul 18.00 WIB.
  3. Pengumuman pemenang lomba foto Indonesia tanggal 27 September 2014 dan hadiah akan diberikan secara simbolik.

Kategori Lomba:

  1. Culture
  2. Nature

Hadiah Pemenang:

  1. Uang tunasi
  2. Sertifikat dari Pemda, dll

Informasi Selengkapnya di Situs Panitia Lomba

Belajar dari Foto Frans Lanting

Pin It

FK-wan, bagi yang gemar membaca majalah National Geographic. Tentunya nama fotografer Frans Lanting sudah tak asing lagi ditelinga. Karya-karyanya memberikan warna tersendiri dalam halaman kotak kuning tersebut.

Foto Frans Lanting di Dead Vlei, Namibia. (c) Frans Lanting

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah “Ghost Trees at Dawn” yang diambil di Gurun Namibia. Dengan pohon yang mengering berlatar hamparan tanah nan menggelora. Frans mampu menghadirkan sesuatu yang mampu memukau kita.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah fotografi ternama di Eropa. Frans membuka rahasianya bagaiman dia memotret pepohonan tersebut. Kontras cahaya kala itu sangat terasa pada gundukan pasir dan tanah liat. Untuk mengakalinya, Frans menggunakan filter ND untuk mengurangi kontras.

Foto yang berlokasi di Dead Vlei, Namibia, Afrika ini tentunya terlihat seperti lukisan. Namun ini merupakan karya foto yang indah. Pada saat pengambilan foto ini, Frans menggunakan Nikon D3X dengan lensa Nikon AF-S 70-200 mm. Dia menggunakan focal length 200 mm dengan aperture f/22. Dengan kondisi ini Frans mendapatkan kecepatan rana (shuter speed) selama 1/10 detik.

Latar belakang dari foto ini adalah gundukan pasir yang terkena sinar matahari pagi. Sementara warna pada tanah itu akibat warna langit. Frans benar-benar memperhitungkan waktu terbaik untuk mengambil foto ini. Ketika matahari mencapai bagian bawah dari gundukan pasir namun sinarnya belum mencapai dasar gurung, Frans baru menekan tombol shutter. Hal inilah yang menciptakan kontras yang kuat antara foreground dan background.

Filter ND tentunya menjadi solusi baik untuk menyeimbangkan antara ruang gelap dan ruang terang foreground dan backgroung. Ini tentunya bisa dipraktekan saat FK-wan hunting dalam kondisi demikian.

sumber : Digital Camera World

9 Tahun Berpetualang Keliling Indonesia

Pin It

Ebbie ketika mengabadikan Puncak Cartenz Jayawijaya

Tidak ada kata terlambat bagi Ebbie Vebri Adrian untuk menunaikan mimpinya membuat buku yang mendokumentasikan ribuan destinasi wisata dan budaya di 34 provinsi di Indonesia lengkap dengan gambar yang indah. Beragam resiko dan tantangan harus dia lalui pada awalnya untuk menuntaskan misi ini, diantaranya dimarahi oleh keluarga, dianggap pahlawan kesiangan, sok nasionalis, hingga diputuskan oleh pacar tercinta.

Banyak resiko besar dihadapi selama diperjalanan baik itu karna faktor alam ataupun faktor dari manusia tidak membuatnya gentar dan menyurutkan nyali untuk terus menjelajah Indonesia. Semua dia jalani dengan sepenuh hati untuk mewujudkan satu tujuan, memenuhi rasa penasaran, hasrat dan cita-cita menghasilkan buku Indonesia yang komplit memuat keindahan alam, flora fauna dan keberagaman budaya yang dicintainya. Ia bertutur, seandainya saja sudah ada fotografer yang melakukannya dulu, maka ia tidak akan bersusah payah berkeliling Indonesia untuk melakukan ini semua.

Cartenz Papua
Cartenz Papua

Semua berawal di akhir tahun 2004, Ebbie yang merupakan seorang anak pencinta alam yang tidak suka foto dan difoto gemar sekali membaca dan mengoleksi buku terutama buku-buku tentang Indonesia yg bertemakan alam, petualangan, flora fauna, yang pada akhirnya membawa dia kepada sebuah pertanyaan besar.

Kenapa buku-buku yang dibelinya itu semua ditulis oleh orang “bule” alias orang asing?  Orang Indonesia dengan 250 juta penduduk pada kemana kok nggak ada yang bikin buku Indonesia yang lengkap?

Sejuta pertanyaan berputar dibenaknya.. Apa kendalanya sehingga tidak ada yg mau membuatnya? Apa karna malas? Butuh biaya yg sangat besar? atau sebab lainnya?
Sehingga muncul kesimpulan yg Ebbie temukan “mungkin” orang-orang bule itu berfikir, tidak ada orang Indonesia yang membuatnya maka “kami akan membuatkannya”.

Seandainya sedari dulu orang-orang Indonesia sangat produktif membuat buku tentang kekayaan negeri sendiri, rasanya orang-orang bule tersebut akan berpikir ulang untuk ikut membuat buku tentang Indonesia.

Di satu sisi, karya bule-bule ini sangat membantu terutama untuk mengisi kekosongan karya tulis tentang Indonesia. Namun mungkin karena tujuannya komersial, selalu saja ada yang kurang dan itu membuat Ebbie tidak pernah puas menikmati buku tentang Indonesia yang ditulis oleh mereka.

TN Tanjung Puting
TN Tanjung Puting

Upaya mendokumentasikan Indonesia dalam bentuk buku menurutnya masih sepotong-potong dan tidak lengkap, beberapa tahun lalu saat Indonesia masih 33 provinsi, paling banyak hanya kisaran 20-25 provinsi saja yang diwujudkan dalam 1 buku. Ada upaya lainnya untuk mendokumentasikan buku foto Indonesia yang dilakukan oleh 30-50 orang, tetapi itupun masih belum lengkap juga. Menurutnya baru sebatas memajang sekumpulan foto bagus.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Alasan itulah yang memaksanya untuk membuat sebuah buku destinasi Indonesia yang lengkap berisi wisata, alam, budaya, underwater, flora, dan fauna hingga aerial atau foto udara apapun tentang Indonesia yang unik dan lengkap per provinsi dalam 1 buku utuh.

Upayanya mencari buku ini membuatnya jalan-jalan berkeliling dunia dan ketika dia memastikan bahwa buku tersebut tidak ada yang pernah membuat, tekadnya semakin bulat.

Memulai dari minus

Bagaimana membangun dan merealisasikan mimpi tersebut? Bagimana bisa Ebbie yang tidak menyukai foto berani membuat sebuah buku yang lengkap dengan pendekatan fotografi yang prima. Akhir 2004 dia mengatakan tidak menyukai memotret, bahkan kamera sakupun tidak punya. “Apa di dunia ini yang tidak bisa dipelajari?”. Filosofi ini yang kemudian membawa Ebbie berani untuk memulai langkah pertamanya di awal tahun 2005.

Curug Sewu, Kendal dan Laut Karimun Jawa
Curug Sewu, Kendal dan Laut Karimun Jawa

Belajar fotografi melalui kursus tidak ditempuh olehnya. Menurutnya, belajar melalui kursus itu terlalu mudah, dia menginginkan yang lebih sulit, dia ingin susah. Cara termudah adalah dengan otodidak, alias belajar trial dan error sendiri. Melalui buku panduan kamera, internet, semua dipelajari, meskipun diamini pada saat itu belajar melalui metode ini banyak keterbatasan, tidak seperti mudahnya belajar fotografi saat ini yang bisa diakses dan gratis terutama melalui internet.

Tahun 2004 ia memutuskan menjual usahanya di bidang komputer dan internet, termasuk mengumpulkan uang tabungannya dan menjual segala yang ia punya untuk modal perjalanan berkeliling Indonesia. Dengan modal tersebut, salah satunya dialokasikan untuk membeli perlengkapan fotografi. 5 hingga 6 bulan pertama hasil fotonya benar-benar tidak bagus malah bisa dibilang hancur. Ia berujar semua memang dilakukannya sendiri tanpa bertanya kepada satu orangpun tentang fotografi. Setelah mengotak-atik dan tekun belajar setiap hari, akhirnya hasil fotografinya sudah relatif stabil.

Museum Bali
Museum-museum di Bali

Semua keahlian fotografinya berjalan seiring waktu, termasuk kemampuannya mendokumentasikan bawah laut juga tidak instan meskipun keahlian menyelam sudah dikuasainya ketika menjadi anak pencinta alam.

Dengan modal “Bismillah” Ebbie memulai perjalanan panjang ini. Tidak ada rencana dan arah yang baik bagaimana ia harus memulai perjalanan ini. Dia tahu, uang yang dimilikinya tidak akan cukup. Tapi Ia berfikir nekat, meski sadar bahwa biaya mengelilingi Indonesia akan sangat mahal sekali.

Dugaannya benar, dalam 3 tahun pertama, uang yang dikumpulkannya habis. Perjalanan non stop yang panjang ini membuatnya terkadang lelah dan jenuh. Untuk mengatasi itu, sesekali Ia beristirahat di rumahnya di Yogyakarta untuk sekedar memulihkan stamina dan mempersiapkan penjelajahan berikutnya.

Untuk destinasi yang dikunjungi oleh Ebbie dilakukan tidak terstruktur karna mengikuti iklim di Indonesia antara barat dan timur yang tidak sama. Dimana provinsi yang sedang “musim panas” maka ia akan menuju kesana. Apabila di provinsi tersebut sudah mulai hujan ia akan pindah ke provinsi lainnya yang cerah.

Ebbi-vebrian-Jomblang
Ebbi mengabadikan goa Jomblang
Goa Grubuk Jomblang
Goa Grubuk Jomblang

Rencana awalnya sangat sederhana, ingin membuat buku yang lengkap per provinsi, sisanya akan mengalir. Apapun keunikan alam, budaya dan hal lainnya dia dokumentasikan dengan lengkap. Yang unik, hanya wisata kuliner yang tidak dia masukan dalam buku, karena takutnya jomplang, karena nanti akan merembet ke nama restoran, hotel, dan lain-lain.

Untuk memudahkan kerja dalam membuat list pemotretan obyek foto, Ebbie menggunakan bermacam buku dan brosur-brosur wisata, salah satunya buku Lonely Planet. Destinasi apa saja yang ada di buku tersebut dia dokumentasikan, tapi sudah pasti apa yang dia punya belum tentu ada di dalam Lonely Planet.

Pilihan membuat buku fotografi

Lalu apa beda buku Indonesia yang Ebbie buat dengan buku sejenis Lonely Planet yang mencoba memberikan panduan lengkap tentang Indonesia?
Kalau Lonely Planet lebih banyak informasi tapi sedikit dan bahkan minim foto. Karena menggunakan pendekatan tulisan inilah ia menemukan banyak hal yang tidak update lagi. Banyak hal yang ditulis di buku itu sudah berubah banyak di lapangan.

Pengalaman tersebut membuatnya merasa “dibohongi”, karena buku yang dia bawa keliling Indonesia tersebut tidak update baik soal rute, akomodasi, hotel yang sudah tutup, tarif yang berbeda, hingga informasi yang katanya untuk mencapai suatu tempat harus mendaki 3 hari ternyata sudah ada jalan mobil.

Ebbi-Toraja
Ebbie bersama motornya ketika tiba di Toraja

Tempat yang katanya indah ketika ia temui dilapangan ternyata biasa sekali. Menurutnya mata orang asing dan dirinya sangat berbeda. Tulisan bisa saja membohongi pembaca karna tanpa dilengkapi dengan foto-foto. Di titik inilah Ebbie memutuskan bahwa fotolah yang harus lebih berbicara dan mendapatkan porsi yang banyak. Tulisan menjadi nomor 2 dalam buku ini, hanya sebagai pelengkap yang menjelaskan foto.

Melalui foto, pembaca di ajak menilai apakah tempat tersebut bagus atau tidak. Karena bagus itu menurutnya relative bagi setiap orang. Dia ingin foto yang berbicara. Silakan pilih foto yang menurutnya sesuai dengan pilihannya, dari kota hingga pedalaman. Dari bawah laut hingga atas gunung.

Taman-Safari
Taman-Safari

Untuk alasan inilah ia memposisikan diri sebagai kurator untuk  memilih destinasi yang menurutnya sangat baik dan layak dibagikan kepada semua orang. Kurasi inilah yang akhirnya memudahkan pembaca memilih destinasi yang menurutnya sesuai dengan kesukaannya. Tidak suka gunung ada laut, bisa menjajal wisata sejarah, bahari hingga museum.

Karena didasarkan dengan pilihan obyek yang menurutnya terbaik berdasarkan pengalaman langsung, maka Ebbie otomatis tidak memasukan semua obyek wisata yang ada di setiap provinsi, hanya yang terbaik yang terpilih. Misalnya dari ratusan pantai di sebuah provinsi hanya beberapa pantai terbaik yang dia pilih, ia ingin orang yang sudah jauh-jauh datang berkunjung tidak merasa tertipu.

Ebbie bisa memastikan pilihannya terbaik karena Ia mengunjungi obyek tersebut satu persatu dan merasakannya langsung. Karena itulah perjalanan membutuhkan waktu yang sangat panjang dan menguras tenaga juga memakan biaya yang mahal. Lebih dari 2000 destinasi wisata ia jelajahi dan menghasilkan ratusan ribu foto yang bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan keasliannya.

Benteng Jawa Tengah
Benteng-benteng di Jawa Tengah

Untuk pengerjaan bukunya, awalnya semua dilakukan sendirian. Mulai dari memotret, mengkurasi, konsep, mendesign layout hingga text. Namun akhirnya dengan beberapa pertimbangan Ebbie menurunkan idealismenya. Untuk layout dan peta dia meminta rekannya untuk membantunya.

Sementara kurasi ia tetap menjadi kurator sendiri, karena memang hanya dia yang tahu foto yang diambilnya dengan segala pertimbangan dan cerita dibaliknya, jadi bukan hanya sekedar foto yang indah.

Cartenz, dan “Near Death Experience”

Dari seluruh foto yang dia kumpulkan selama 9 tahun, ada beberapa obyek yang sangat sulit sekali dia abadikan. Tidak lain dan tidak bukan, Puncak Cartenz di pegunungan Jayawijaya. Bukan hanya sulit karena harus diambil dari atas udara dengan menggunakan helikopter tetapi juga sulitnya mengurus perizinan. Untuk bisa mengambil gambar puncak Cartenz, kita memasuki wilayah sebuah pertambangan. Untuk itu sejumlah perizinan dan kesiapan teknis harus disiapkan dan itu membutuhkan biaya yang besar.

Beruntung, lewat sebuah penantian panjang, dia mendapatkan akses memotret menggunakan helikopter berkeliling pegunungan Jayawijaya dari perusahaan tambang tersebut. Ganjarannya adalah foto itu menjadi salah satu foto pembuka buku INDONESIA The World Treasure.

Cartenz-Papua
Cartenz-Papua

Lalu apa hal yang membuatnya sedih dalam pengerjaan buku ini? Yaitu ketika hardisk foto yang belum sempat dibackupnya crash. Hilang, meskipun ada beberapa foto yang masih bisa diselamatkan, namun kehilangan momen, biaya dan juga semangat mungkin akan sulit dia bangun kembali apabila hasil fotonya hilang. Berdasarkan pengalaman itu, Ebbie kemudian sangat berhati-hati menyimpan datanya. Beberapa hardisk dia siapkan termasuk menyebarnya tidak hanya di satu tempat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal seru lainnya yang berkesan selama pembuatan buku ini? Terhitung 4 kali Ebbie baku hantam dengan warga lokal yang menjadi fixernya, lebih ke perdebatan terkait dengan bayaran atas jasa transport atau porter yang sudah disepakati.

Pulau Komodo
Taman Nasional Komodo

Atau pengalaman nyaris mati, seperti kram setengah badan ketika berenang di Pink Beach Pulau Komodo dan terseret ombak palung di Sumbawa. Tapi ada satu tempat yang membuatnya berfikir berkali-kali untuk dikunjungi apabila dia mendapatkan kesempatan lagi, WAKATOBI.

Di Wakatobi dia mengalami 2 kali “apes” yang membuatnya kapok datang kembali. Pertama tahun 2007 ketika kapal motor yang ditumpangi mesinnya pecah di tengah lautan tanpa makanan dan hanya ada air mineral satu botol kecil dan memaksanya bertahan hidup dilautan dengan terombang-ambing selama tiga hari sebelum diselamatkan oleh tim SAR. Apes ke-2 yaitu tahun 2012 ketika mencoba kembali ke Wakatobi untuk diving selama seminggu disana dan memotret underwater. Baru hari pertama sampai disana Ebbie sudah kecelakaan parah saat dibonceng motor sesudah memotret sunset di atas bukit!

Semua pengalaman ini tak menyurutkan dirinya untuk mundur, pantang untuk berhenti di tengah jalan. Seluruh pengalaman ini membuatnya memiliki intuisi yang kuat untuk bisa membaca problem sebelum melakukan perjalanan menelusuri suatu daerah.

Kover Buku Foto Indonesia
Kover Buku Foto Indonesia “The World Treasure”

Pengalaman dan cerita panjang mengumpulkan foto yang indah dari seluruh Indonesia sesaat lagi akan tiba ditangan kita. Buku INDONESIA The World Treasure setebal 530 halaman hard cover, berisi 1400 foto-foto di 34 provinsi Indonesia. Dengan ukuran 24 x 33 cm, total berat buku hampir 4 kg ini layak untuk dikoleksi bagi kita khususnya fotografer dan traveler yang ingin mengenal Indonesia secara dekat dan lengkap.

Gua Tewet Sangkulirang Kaltim
Gua Tewet Sangkulirang Kaltim

Dengan penyajian foto yang secara teknis memiliki standar kualitas fotografer National Geographic Anda pasti akan puas dan betah berlama-lama menikmati halaman demi halaman buku ini. Meskipun Ebbie menyadari masih banyak kekurangan, setidaknya dia berhasil merealisasikan mimpi dan cita-citanya membuat buku ini.

Sumbangsihnya sangat berharga untuk kemajuan dunia pariwisata dan buku fotografi di Indonesia. Imaji dalam buku ini akan menjadi saksi dan tidak akan lekang dan akan menjadi bagian dari sejarah. Tugas kita bersama untuk mengapresiasinya dan mendapatkan inspirasi untuk lebih cinta kepada Indonesia.

Foto: Ebbi Vebri Adrian & Purwo Subagiyo (repro buku foto Indonesia “The World Treasure”)

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

5 Tablet Terbaik Untuk Teman Perjalanan FK-wan

Pin It

Fk-wan, perjalanan yang nyaman tentunya menjadi idaman kita. Meskipun jauh dari rumah, tetap tersambung dengan orang terdekat dan melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan, hingga menikmati hiburan dari genggaman. Berikut ada lima tablet terbaik yang ada dipasaran saat ini yang mampu memberikan FK-wan pengalaman terbaik dalam genggaman.

iPad Mini with Retina Display. (apple.com)

1. iPad Mini with Retina Display
Layarnya berukuran 7,9 inci. Tentu saja layar super tajam Retina Display mereka menjadi yang diunggulkan oleh Apple. Resolusi layarnya sebesar 2048 x 1536. Pada iPad ini Apple menanamkan Chip A7 untuk kinerja yang lebih cepat. Dengan kehadiran prosesor ini, Apple mengklaim bahwa pengguna bisa perangkat ini bisa bekerja cepat tanpa boros daya tahan baterai. Perangkat ini memiliki daya tahan baterai hingga 10 jam. FK-wan tidak perlu repot-repot mengisi ulang saat menggunakannya seharian. Perangkat ini bekerja dengan sistem operasi iOS7, Apple sudah menambahkan iPad mini dengan aplikasi mulai dari iPhoto, GarageBand, hingga Keynote.

Samsung Galaxy Tab 2. (samsung.com)

2. Samsung Galaxy Tab S
Samsung mengunggulkan layar tablet terbaru mereka yang berjenis Super AMOLED dengan resolusi hingga 2500 x 1600. Tampilannya mirip dengan Galaxy S5 dengan ukuran yang lebih besar. Termasuk cover bagian belakang dari bahan plastik dengan tekstur bintik-bintik. Tablet ini menjadi yang tertipis diantara tablet keluaran Samsung, sehingga menjadi cukup ringan. Dilengkapi dengan kamera 8 megapiksel, dengan LED flash. Samsung menempatkan prosesor Exynos Octa Core. RAM nya 3G dengan memori penyimpanan internal sebesaf 16GB, Tersedia dalam dua ukuran layar, 8.4 inci dan 10.5 inci.

Sony Xperia Z2 Tablet. (sonymobile.com)

3. Sony Xperia Z2 Tablet
Dengan ukuran 10.1 inci, FK-wan bisa mendapat paket lengkap. Sony menawarkan akses mudah ke koleksi musik dan filmnya. Sony menghadirkan prosesor 2, GHz Qualcomm Quadcore. Z2 Tabletmemiliki memori penyimpanan internal hingga 16GB dan RAM 3GB. Kamera belakang beresolusi 8.1 megapiksel. Sedangkan kamera depan 2.2 megapiksel. Selain cukup tipis dan ringan untuk ukurannya ini, Sony menambahkan fitur lainnya yang menjadi andalan untuk rangkaian produk premium mereka, tahan air. Dapat dimasukkan kedalam air sedalam 1,5 meter selama 30 menit.

Microsoft Surface Pro 3. (microsoft.com)

4. Microsoft Surface Pro 3
Masih harus memikirkan banyak pekerjaan saat melakukan perjalanan? Tablet 2 in 1 ini cocok untuk FK-wan bawa. Ukurannya memang 12 inci, tapi Microsoft membuat ini dapat digunakan sebagai notebook dengan tambahan keyboard. Resolusi layarnya cukup besar, 2160 x 1140. Kamera depan dan belakang sama-sama memiliki resolusi 5 megapiksel. Surface Pro 3 menggunakan Intel Core i5 dengan RAM 8GB dan SSD sebesar 256GB. Spesifikasinya ini membuat FK-wan dapat melakukan pekerjaan dengan cepat meskipun sedang dalam perjalanan.

Nexus 7. (google.com/nexus)

5. Nex Nexus 7
Nexus 7 terbaru ini masih tetap berukuran 7 inci untuk layarnya, tapi lebih tipis dengan yang sebelunya. Memiliki layar dengan resolusi 1920 x 1200 dan dilapisi dengan Gorilla Glass. Prosesor Qualcomm Snapdragon S4 Pro turut ditancapkan dengan RAM 2GB. Kamera belakangnya memiliki resolusi sebara 5 megapiksel, sedangkan bagian depan memiliki resolusi 1,2 megapiksel. Daya tahan baterainya terbilang baik dengan ketahanan hingga 8,5 jam.

Nah, FK-wan tertarik memiliki perangkat yang mendukung perjalanan FK-wan? Silahkan pilih sesuai dengan pertimbangan yang sudah FK-wan putuskan.

sumber: Majalah Travel Fotografi