Makanan di Sekitar Kita

Pin It

Indonesia adalah negara dengan beragam suku. Berkah tersebut mendatangkan berkah lainnya: suku-suku tersebut, sesuai pengalaman sosial mereka, kemudian mengembangkan tradisi makanan mereka sendiri-sendiri.

Makanan, dalam konteks antropologi, melambangkan kehidupan sehari-hari, alam, dan budaya suku-suku di berbagai pelosok Indonesia. Bagi masyarakat perkotaan, makanan juga menjadi akar persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan. Makanan, bahkan juga menjadi perekat dalam kehidupan beragama.

Pada akhirnya, makanan bukan hanya soal rasa, melainkan juga melingkupi segenap indra manusia.

Berikut adalah foto-foto seputar dunia kuliner yang kami rangkum dari foto-foto FK-wan di situs tercinta ini. (Silakan klik pada foto untuk menuju halaman asli foto tersebut).

Jajanan ini banyak ditemukan di sudut Kota Makassar pada saat sore hari, umumnya di kampung Pecinan. (Akbar Mangkona)

Seorang ibu penjual lammang sedang membalik lammang yang telah matang di atas tungku pembakaran. Lammang adalah makanan tradisional yang berasal dari Jeneponto, Sulawesi Selatan yang merupakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam wadah bambu, dan selanjutnya dibakar hingga matang. (Bahauddin Raja Baso)

Warga Desa Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat menyiapkan makanan saat Upacara Serentaun. Serentaun merupakan ungkapan rasa syukur warga Ciptagelar kepada Tuhan atas panen padi. (Handka Rizki)

Salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan saat liburan ke Bukittinggi, Sumatra Barat adalah mencicipi lezatnya nasi kapau Uni Lis. Inilah nasi kapau paling lezat yang mungkin pernah Anda cicipi di pasar bawah Bukittinggi. (Heriyadi Asyari)

Pedagang makanan kuliner khas Makassar pisang epe di kawasan Pantai Losari di Makassar. (Iqbal Lubis)

Proses pembuatan kue bika khas Kota Padang Panjang masih dengan menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat agar citarasa khas tetap terjaga. (Isra Triansyah)

Sejumlah pedagang menyiapkan bahan Sate Ayam Madura yang akan dijual, di kawasan Kauman Solo, Jawa Tengah. Sate ayam Madura yang terdiri dari potongan jeroan dan telur belum jadi berwarna kuning tersebut, merupakan salah satu kuliner khas Solo yang dapat dinikmati oleh para wisatawan. (Jessica Wuysang)

Sebuah potret keluarga kecil di pesisir Desa Puloet, Kecamatan Leupung Aceh Besar, yang notabenenya masyarakat yang dulunya sebelum tsunami bekerja sebagai nelayan sekarang mereka menjadi penjual/peternak ikan asin yang dijajakan di pinggir jalan untuk para penguna jalan yang melewati desa mereka. (Rinaldi AD)

Kedelai yang telah direbus, diletakkan pada beberapa tampah lalu ditata rapi di sebuah ruangan dan didinginkan dengan bantuan beberapa kipas angin yang dayanya cukup besar di pabrik tempe yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta . Tampak dua orang pekerja mengaduk kedelai tersebut agar proses pendinginannya lebih cepat. (Rosario Guntur Harimawan)

Mie lethek adalah salah satu produk kuliner dari Bantul yang berbahan tepung tapioka dan diproduksi dengan cara yang masih tradisional. Jenis kuliner ini sangat unik karena memiliki warna yang kusam kecokelatan, sehingga tampak kurang menarik. Tetapi justru karena warna keruhnya itulah mi ini disebut dengan mie lethek. (Zahirul Alwan)

Simak juga foto cerita berikut ini:

Meski Kusam, Mi Lethek Tetap Bertahan

Kemplang Panggang Khas Palembang

Warung Terapung

Memahami Aperture

Pin It

Mengatur jumlah cahaya yang mengenai sensor bukan satu-satunya fungsi yang dimiliki oleh lubang besar di lensa tersebut. Tapi juga memberi kesempatan pada penggunaannya untuk kreatif dengan depth of field.

Pengaturan Aperture Priority (AV). foto: Deasy Megawati Putri

Apa sebenarnya aperture? Mudahnya, aperture adalah lubang pada lensa yang dilewati cahaya untuk bisa mencapai sensor gambar kamera. Peran aperture dalam kombo ini adalah mengatur seberapa banyak cahaya mencapai sensor. Dengan pengecualian lensa mirror ‘fixed aperture’ yang sangat sedikit, semua kamera memungkinkan pengguna untuk mengubah ukuran lubang ini agar lebih banyak atau lebih sedikit cahaya yang dapat masuk.

Pilihan aperture merupakan pertimbangan terpenting dari berbagai kondisi pemotretan. Contohnya, fotografer lanskap biasanya menggunakan aperture kecil dengan lensa wide-angle untuk menampilkan sebanyak mungkin depth of field pada gambar. Begitulah cara mereka mendapatkan pemFK-wanngan detail, dimana semua elemen, ditampilkan dengan tajam di seluruh area frame, mulai dari bunga di dekat kakinya hingga pegunungan di horison.

Fotografer potrait dan wildlife seringnya memilih batas aperture sebaliknya, menggunakan lensa panjang dan aperture lebar untuk menumpuk objek tajam di antara foreground dan background kabur.

Aperture menjadi pertimbangan yang semakin penting ketika berkaitan dengan jarak objek. Semakin dekat fokus, semakin sempit depth of field yang akan tertangkap untuk aperture tersebut. Inilah alasan mengapa fotografi makro membutuhkan penggunaan pemfokusan yang sangat akurat dan aperture yang sangat kecil, karena depth of field seringkali diukur dalam milimeter.

Kalau pengaturan depth of field penting pada gambar, maka ya, pilihlah Aperture Priority (A atau Av pada tombol putar kamera). Ini merupakan modus eksposur otomatis yang memungkinkan pengguna untuk memilih f-stop secara manual, sementara kamera memilihkan shutter speed yang sesuai untuk mendapatkan pengaturan yang di kalkulasi kamera sebagai eksposur bagus, berdasarkan pada aperture, modus matering, ISO yang dipilih, dan sebagainya.

Penjelasan cara mengatur aperture.

Eksposur manual memberi kendali penuh atas aperture dan shutter speed, tapi sistem ini mungkin terasa sulit bagi pemula. Sesuai dengan namanya, Aperture Priority (A atau AV) merupakan modus eksposur semi otomatis yang memungkinkan penggunanya untuk menentukan aperture sebagai prioritas.

1. Cara mudah untuk menentukan aperture sendiri dengan memilih modus A/Av pada tombol putar Mode. Kemudian putar tombol input utama kamera untuk meningkatkan atau menurunkan pengaturan aperture. Kamera akan menyesuaikan shutter speed secara otomatis.

2. SLR Digital menawarkan pilihan hingga tiga skala aperture, dengan peningkatkan satu stop, setengah stop, atau sepertiga stop (lihat menu Custom Functions pada kamera unuk memilih opsi yang diinginkan). Kami lebih suka sepertiga stop karena dapat membuat eksposur lebih sempurna.

3. Ada tiga langkah untuk mengetahui pengaturan aperture, yaitu di viewfinder, di layar LCD belakang, dan pada SLR high-end, di layar LCD kecil di bagian atas kamera. Agar lebih mudah, FK-wan bisa melihat setting lewat layar LCD atas body kamera dan viewfinder.

4. Banyak kamera mempunyai tombol Depth of Field Preview yang menutup aperture pada pengaturan yang dipilih, sehingga pengguna dapat mengukur depth of field melalui viewfinder. Namun, Live View menawarkan presentasi pengaturan aperture yang lebih efektif.

Deasy Megawati Putri/ TraveFotografi

Teknik Multiple Exposure

Pin It

Teknik memotret dengan gaya multiple exposure bukan barang baru, bahkan sudah di dalami sejak zaman film. Teknik ini biasa digunakan untuk dua atau lebih adegan gerak ataupun diam dalam sebuah frame. Tujuannya tidak lain supaya gambar terihat lebih dramatis dan dinamis.

Multiple Exposure (thinkstock)

Pertama, syarat mutlak adalah jenis kamera. Ternyata tidak semua kamera digital mempunyai fasilitas atau feature multiple exposure. Kalaupun tidak memiliki namun ingin mencobanya, berarti memerlukan olah digital lewat piranti lunak komputer. Yakni dengan menggabungkan beberapa layer/lapis yang ditumpuk menjadi satu frame.
Sebagai catatan, tulisan ini mengupas multiple exposure yang dibuat di internal kamera, bukan di komputer.
Teknik mendapatkan multiple exposure:

- Pastikan image quality (tipe output) kamera FK-wan sudah diatur untuk menghasilkan foto RAW.

- Ambil dua foto objek dengan posisi atau gerakan yang berbeda dan bisa juga dua objek yang berbeda.

- Tentukan berapa frame yang akan ditumpuk dalam satu frame. Biasanya kamera menyediakan fasilitas 2 hingga 10 frame. Banyak sedikitnya adegan yang terekam tergantung kreatifitas fotografer.

- Pastikan kondisi cahaya menjamin suksesnya multiple exposure. Background foto harus lebih gelap dari subjek. Hal ini untuk menjaga speed dan diafragma terjaga saat merekam beberapa adegan.

- Perhatikan baik-baik apa yang akan dibuat multiple exposure. Sesuaikan dengan kebutuhan foto karena tidak semua adegan bagus untuk dibuat multiple.

- Karena tujuan multiple exposure membuat suatu adegan lebih hidup dan dramatis, tetap perhatikan bahasa tubuh dan ekspresi subjek yang hendak dijepret. Jangan sampai keduanya tertutup oleh banyaknya layer yang ditumpuk.

- Latih kemampuan multiple secara terus menerus dan berulang-ulang. Latihan ini diperlukan karena multiple memerlukan teknik dan cita rasa yang cukup tinggi.

Sebagai catatan, multiple ini cukup menguras shutter count di kamera FK-wan.

Deasy Megawati Putri/Travelfotografi

Menghasilkan Foto Sunrise Dengan Smartphone

Pin It

Kebanyakan bagi para pemilik smartphone sering menggunakan smartphone-nya untuk narsis, ya foto-foto tentunya. Rasanya belum lengkap jika saat berpergian tidak mengabadikan momen-momen tersebut. Apalagi kalau sedang menuju kantor dijalan pagi-pagi banyak pemandangan yang sering ditemui, kamera jadi perihal yang wajib untuk dibawa.

Suasana pagi di Desa Klipoh, tak jauh dari Candi Borobudur. (Yunaidi)

Berikut sedikit cara untuk mendapatkan foto sunrise:

1. Perhatikan dari mana arah cahaya matahari muncul, karena background harus memiliki cahaya yang maksimal dibandingkan objek

2. Jangan pernah menggunakan zoom pada smartphone karena hasilnya blur dan bad quality

3. Perhatikan ISO dan komposisi

4. Kunci fokus agar foto yang dihasilkan benar secara fokus

5. Pakai dua tangan, smartphone memang kecil dan tidak seberat DSLR tapi agar foto yang FK-wan hasilkan tidak blur maka lebih baik menggunakan dua tangan agar lebih kokoh

6. Banyak sekali aplikasi yang tersedia untuk pengolahan foto di smartphone. FK-wan bisa menggunakan Intagram, Camera360, TopCamera, dll untuk mengedit foto secara instan. Dan semua aplikasi tersebut bisa di unduh langsung ke smartphone FK-wan. Tidak ribet dan gratis pula.

Keinginan untuk jepret-jepret tidak menghentikan langkah FK-wan, jangan lupa untuk share di aplikasi Instagram, Camera360, pinterest dan semua photo sharing apps yang ada di smarthphone FK-wan, sehingga tidak perlu membawa kamera DSLR, tapi FK-wan bisa membuat smartphone photography dengan hasil yang tidak kalah keren.

Deasy Megawati Putri/travelfotografi.co.id

Samsung NX300 Teman Pecinta Fotografi

Pin It

Salah satu catatan Samsung­ di   tahun 2013 adalah keseriusannya berbisnis di segmen kamera mirrorless. Samsung NX300 menjadi salah satu produk kamera dengan hasil yang memuaskan dari Samsung.

Foto: Samsung

Samsung NX300 ini adalah sebuah kamera mirrorless yang hadir dengan gaya retro atau vintage. Di mana gaya tersebut banyak diadopsi juga oleh para produsen kamera pengembang mirrorless. Semua itu serasa kembali ke masa lalu, tetapi hanya sebatas kemasan dari kecanggihan dan teknologi.

Tampilan depannya memang tidak jauh beda dari kakaknya (NX210). Namun, begitu kita lirik bagian belakang dan jerohannya, tentu jauh berbeda. Samsung membekali NX300 dengan layar AMOLED 3.31 inci dengan Tilt Touch Panel beresolusi 768.000 dots yang tentunya juga memberikan hasil preview gambar yang baik. Selain itu, FK-wan juga dapat mengatur pengoperasian serta titik fokus dari sentuhan-sentuhan di layar AMOLED tersebut.

Samsung juga menempatkan tombol-tombol pada posisi yang mudah diakses dan familiar. Selain itu, karena dalam kesempatan pengujian ini, Samsung menyertakan lensa 18-55 mm III OIS, FK-wan juga dapat menggunakan tombol i-Function untuk beberapa pengaturan. Untuk perekaman video, cukup menekan tombol record yang berada di sudut kanan atas bagian belakang kamera.

Beragam Penyempurnaan
Untuk menghadapi persaingan dengan mirrorless lainnya, Samsung memberikan beragam penyempurnaan dan teknologi terbaru pada NX300 ini. Menilik dapur pacunya, sensor APSC-CMOS beresolusi 20.3 Megapixel siap merekam berbagai momen dengan dukungan lensa Samsung yang memiliki aperture besar, kecepatan rana hingga 1/6000 second, dan rentang ISO yang dapat dimainkan antara 100-25600.

Selain itu, Samsung juga membekali mirrorrless terbarunya ini dengan New Image Engine DRIMe IV yang memungkinkan NX300 melakukan pengambilan gambar dengan cepat hingga 8.6 fps, serta melakukan perekaman gambar maupun video berformat 3D dengan dukungan lensa NX 45 mm f/1.8 2D/3D. Advance Hybrid AF System-nya juga terbukti ampuh dalam pengujian CHIP Foto Video kali ini.

Beragam feature dari Smart Mode dan Smart Filter akan memungkinkan FK-wan untuk menciptakan gambar-gambar kreatif hanya dengan satu device, yaitu NX300. Dari mode Waterfall, Beauty Face, Best Face, hingga deretan 13 filter kreatif terpatri di bodi kokoh NX300. Hasil gambarnya juga dapat disimpan dalam format RAW.

Sejauh pengujian ini, mirrorles yang hadir ada dalam tiga warna pilihan (coklat, hitam, putih) tersebut, menyajikan hasil gambar yang baik dengan warna dan detail yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun, ada sedikit catatan, ketika pertama kali mendapat paket NX300, FK-wan akan mendapati Picture Wizard pada pemilihan mode warna “Retro” yang sedikit membuat kaget karena menghasilkan warna gambar cenderung kusam. Tetapi, itu hanyalah sebatas pengaturan saja. Picture Wizard tersebut dapat diubah pada pengaturan sesuai selera. Hanya baterainya saja yang kurang memuaskan, yaitu boros pada pemakaian, terlebih jika terkoneksi Wi-Fi dalam penggunaannya.

Bagi FK-wan yang membutuhkan sharing foto dengan cepat, NX300 juga dapat mengerjakanannya. Hal tersebut berkat adanya Wi-Fi direct yang memungkinkan untuk berbagi foto atau video ke Email SNS + Cloud, Facebook, Picasa, YouTube, SkyDrive Allshare (penyimpanan Web, perangkat DLNA), dan feature NFC. Selain itu, dengan Wi-Fi dan MobileLink (aplikasi smart camera untuk Android dan iOS) yang dapat digunakan sebagai media transfer foto dan viewfinder jarak jauh. Serta dalam paket penjualannya, Samsung menyertakan CD Adobe Lightroom 4.

Wi-Fi memang sebuah gebrakan besar yang mungkin menjadi feature “wajib” kamera-kamera keluaran baru. Karena, dengan feature Wi-Fi, FK-wan dapat terkoneksi dengan cepat ke berbagai jaringan. Hal itulah yang dilakukan Samsung kali ini, menyediakan gambar dengan cepat, serta membagikannya dengan cepat pula.

Seperti slogan yang diusungnya, yaitu “Shoot Fast, Share Faster”.

Spesifikasi Samsung NX300

Resolusi :   20.3 Megapixel

Image Engine :   DRIMe IV
ISO                   :   Auto, 100 – 25600
Layar                :   AMOLED 3.31 inci dengan Tilt Touch Panel
Video               :   Full HD Movie 1080 60p
Dimensi          :   122 (W) x 63.7 (H) x 40.7 (D) mm (tanpa part tambahan)
Berat               :   565  gram (dengan lensa 18-55 mm III OIS)

Taufan Yusuf Nugrofo/Chip

Memotret Siluet

Pin It

Tujuan memotret siluet salah satunya adalah ingin menghilangkan detail dan tekstur subjek menjadi bentuk yang sederhana dengan latar belakang terang. Pengaturan kecepatan dan diafragma memotret siluet tergantung dari cahaya yang ada waktu pemotretan berlangsung. Dibutuhkan ketepatan dalam mengatur kecepatan dan diafragma sehingga objek yang direkam memiliki kontur dan ketajaman yang tepat.

Pendaki melewati punggungan Gunung Rinjani menuju puncak Anjani diketinggian 3726 mdpl. (foto/ Yunaidi Joepoet)

Dibanyak foto, siluet mampu membuat foto yang menakjubkan. Dengan menampilkan foto dengan subjek berwarna hitam jauh dari gangguan dan campuran detail warna lainnya. Foto siluet yang paling populer adalah dengan menggunakan latar belakang atau background yang berwarna cerah. Contohnya, sunrise dan sunset yang mampu memberikan pencahayaan yang sangat baik.

Kunci fotografi siluet atau Silhouette Photography adalah matering dan eksposur. Berikut cara mendapatkan siluet:

1. Matering ke background

Foto siluet adalah menempatkan objek utama di depan cahaya, lalu matering (mengatur exposure) ke arahbackground, bukan ke objek utama.

2. Fokus ke arah subjek

Gunakan setting kamera mode Auto untuk mempermudah melakukan matering ke background.

3. Matikan lampu flash

Siluet adalah cara yang tepat untuk menyampaikan drama, misteri, emosi dan mood pada foto, karena itu kita menginginkan objek utama terlihat gelap, maka lampu flash harus dimatikan.

4. Lakukan framing dan komposisi pada jepretan FK-wan dengan menempatkannya di depan view yang menarik, tetapi dengan background yang terang. Background yang menarik bisa berupa langit tanpa awan yang cerah dengan pengaturan matahari. Posisikan cahaya paling terang di belakang subjek sehingga terkesan FK-wan sedang menyembunyikan sumber cahaya tersebut.

Efek-efek siluet diterapkan untuk berbagai jenis subjek pemotretan baik itu memotret orang (potrait), benda mati (Still life) dan pemFK-wanngan (landscape). Kreatiflah membingkai siluet dalam ruang bidik kamera.

Deasy Megawati Putri/travelfotografi.co.id

Kenali Pengaturan Ini Sebelum Memotret

Pin It

Pernahkah FK-wan mengalami pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan FK-wan menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 200 saja cukup.

ilustrasi: thinkstockphotos

FK-wan baru menyadari bahwa FK-wan menggunakan settingan white balance untuk medung, padahal dari awal acaranya dilakukan dengan penerangan lampu neon.

Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.

Secara mendasar, ada 5 setting di kamera digital FK-wan yang harus selalu diperiksa sebelum jari memencet tombol shutter pertama kali dalam sebuah sesi pemotretan.

1. Periksa Settingan White Balance FK-wan

Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau FK-wan percaya dengan kamera, setwhite balance di posisi Auto.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Ini ampuh untuk menghindari foto yang over exposure. Highlight warning adalah penFK-wan yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias over exposed. Selain menggunakan highlight warning, FK-wan juga bisa memeriksa histogram di LCD kamera digital FK-wan.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam FK-wan memotret pesta ulang tahun teman FK-wan di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dijalan raya.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat FK-wan hunting di kebun binatang, tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang FK-wan miliki kapasitasnya berbeda. Format foto, apakah harus memili JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto FK-wan dimulai.

5. Periksa Setting Mode Exposure Kamera

Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang FK-wan pilih: Manual – Aperture Priority – Shutter Priority – Mode Program dan beberapa preset bawaan kamera digital. Pastikan FK-wan sudah mengetahui mode mana yang akan FK-wan pilih.

Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting FK-wan akan semakin mudah.

Deasy megawati putri/ travelfotografi.co.id

Pameran Foto “Sea of the Ancestors” by Beat Presser

Pin It

Sea-of-the-Ancestors

Galeri Foto Jurnalistik Antara, Goethe Institut Indonesien, Swiss Arts Council Prohelvetia & Swiss Embassy Jakarta
presents photo exhibition

“Sea of the Ancestors” by Beat Presser

The author and photographer Beat Presser presents his story of the Dhows (traditional boat) along the East African Coast and Pinisi in Indonesia.
The exhibition will showcase 79 pictures not just about the traditional boat but also celebrates the spirit of the seaman from East African coast and the well-known Bugis tribe. His view also extend to culture, landscape and history of the maritime traditions.

Beat Presser lived and worked in Madagascar from 1988-1992 and later continued in 2009-2010 along the East African Coast. Now he looks into ships, trade and travels in the Indonesian Archipelago.

OPENING
Friday, September 19, 2014
at 7.30 pm

by Dr. Heinrich Bloemeke
Director Goethe-Institut Indonesia
Regional representative
Southeast Asia/Australia/New Zealand

Daniel Derzic
Chargé d’affaires a.i.
Embassy of Switzerland

Exhibition Date
SEPTEMBER 19 – OCTOBER 5, 2014

Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara no. 59 Pasar Baru,
Jakarta 10710, Telp./fax 021.3458771

GRATIS/Free of Charge

supported by:
Galeri Foto Jurnalistik Antara,
Goethe-Institut Indonesien,
Swiss Arts Council Prohelvetia
& Swiss Embassy Jakarta

Lukisan, Foto, dan Pencahayaan ala Walter Spies

Pin It

Lukisan-lukisan yang tergantung di dinding, yang abadi dalam kesunyiannya itu, telah sejak lama memengaruhi dunia fotografi.

Oleh Reynold Sumayku

Ditilik jauh ke belakang, seni lukis bahkan telah memengaruhi pembuatan foto sejak saat rintisan fotografi itu sendiri dimulai—apakah sejak camera obscura (masa klasik hingga sekitar abad ke-17) atau era Niépce dan Louis Daguerre (abad ke-19).

Kedua format dua dimensi ini, lukisan dan foto, sama-sama dapat merepresentasikan apa yang dilihat—dan digagas—oleh manusia. Namun, karena lukisan telah eksis jauh terlebih dahulu maka fotografi terus-menerus berada pada jalur yang dirintis oleh pendahulunya itu. Kebekuan adegan dan ekspresi dalam seni lukis, termasuk pemilihan sudut pandang (angle) dan komposisi, merupakan inspirasi yang tiada habisnya bagi fotografi. Hal itu terus berlanjut hingga hari ini, dan esok.

Lukisan bentang alam Iseh dalam cahaya pagi, karya Walter Spies (Wikipedia, koleksi Tropenmuseum).

Diakui atau tidak, Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci banyak sekali merecoki otak para fotografer saat membuat foto potret. Contoh lain yang belum begitu lama berselang juga tak terlalu sulit ditemui. Pada Oktober 2011, Samuel Aranda memotret adegan seorang wanita sedang memeluk dan menenangkan kerabatnya yang terluka, di dalam suatu masjid yang difungsikan sebagai rumah sakit selama persengketaan di Sana’a (Yaman). Foto yang dibuat dalam penugasan untuk New York Times itu lantas terpilih sebagai World Press Photo of the Year.

Seketika memandangi foto itu, kita merasa seolah-olah sedang memirsa suatu lukisan. Gestur manusia, komposisi, serta pencahayaan dalam foto itu, oleh para pemerhati dan kritikus foto disebut “mengandung mood seperti yang dahulu ditemui pada lukisan-lukisan gaya renaisans”.

Dalam kali lain, terdapat beberapa contoh tentang bagaimana foto giliran menginspirasi pembuatan lukisan. Misalnya saja, fotografi terkadang digunakan sebagai referensi dalam melukis. Terutama yang terkait detail dan tekstur wajah.

Reproduksi “Lanskap dan Anak-Anaknya”, lukisan karya Walter Spies. Difoto di Puri Lukisan, Ubud, dengan izin (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia).

Pada saat lukisan dan foto sama-sama dapat merepresentasikan suatu hal yang sama, persepsi yang ditimbulkan bisa berbeda. Pada dasarnya, foto diklaim mewakili apa yang disebut ekspresi realistik. Akan tetapi, apakah kita dapat menyangkal bahwa pendekatan fotografi juga bisa ke arah surealisme?

“Persaingan” sesekali juga muncul. Pada 1842, seorang penulis majalah menyebut bahwa seniman lukis tak akan mampu menandingi akurasi dari daguerreotype. Balasan datang 17 tahun kemudian, kala Charles Baudelaire—seorang penyair—mengejek fotografi dengan menyebutnya “musuh abadi bagi seni”.

Altar dan paviliun di Desa Trunyan di tepian Danau Batur, Bali, 1932 (Walter Spies). John Stowell, "Walter Spies: The Artist as Photographer" dalam buku "Toward independence: a century of Indonesia photographed", diedit oleh Jane Levy Reed, Friends of Photography, San Francisco, 1991 (exh cat).

Omong-omong, pada Januari 1930, seorang lelaki muda berdarah Jerman kelahiran Rusia mulai menempati suatu paviliun beratap dobel yang dibangun pada lereng yang dasar lembahnya diairi oleh Sungai Campuan di Ubud, Bali. Nama lelaki ini Walter Spies. Ia seorang pelukis sekaligus fotografer.

Walaupun ia sendiri terpengaruh oleh gaya seni lukis Bali, Spies ikut memengaruhi perkembangan seni lukis setempat. Utamanya dalam gaya pencahayaan dan teknik pewarnaan. Ia hampir selalu menyertakan berkas-berkas cahaya (ray of lights) dalam karya-karya lukisannya. Terdapat kesan bahwa lukisan-lukisannya itu seolah-olah menggunakan teknik dodge dan burn yang biasa digunakan dalam proses kamar gelap pada era film hitam putih dan berlanjut ke era digital sekarang. Salah satu lukisan karya Walter Spies yang paling terkenal adalah “Het schilderij ‘Iseh im Morgenlicht”.

Dalam berfotografi, gaya Spies juga sangat dekat dengan lukisan-lukisannya: kerap menyertakan larik-larik cahaya. Ia rupanya terpesona. Kepada lanskap Bali, pun kepada cahaya paginya. Dalam kasus Spies, fotografi dan lukisan tetap berteman baik.

Rangda dalam pertunjukan Barong di Pagoetan, Bali, 1937 (Walter Spies). John Stowell, "Walter Spies: The Artist as Photographer" dalam buku "Toward independence: a century of Indonesia photographed", diedit oleh Jane Levy Reed, Friends of Photography, San Francisco, 1991 (exh cat).

Raja Karangasem yang terakhir, Dr AAM Djelantik yang mendirikan Himpunan Walter Spies Indonesia mengistilahkan karya-karya lukisan Spies sebagai “realisme magis”. Nah, sekarang pun kita masih sering menemukan penggunaan berkas-berkas cahaya dalam fotografi, misalnya pada fine art, bukan? ***

Dua foto terakhir ditampilkan dengan izin. Sumber foto: http://www.asia-pacific-photography.com/towardindependence/spies/index.htm

Reynold Sumayku adalah seorang fotografer, penulis, dan editor foto. Ikuti Reynold di Twitter. FotoKita juga ada di Twitter, Facebook, dan via akun NG Indonesia di GooglePlus.

Memasuki Era Jurnalisme “Hape”

Pin It

Pertanyaan yang masih selalu saya dengar setiap menjadi pembicara pada sebuah seminar jurnalistik di kampus adalah: “Kamera dengan spesifikasi bagaimana yang layak menjadi alat jurnalistik?”

Kesibukan di stasiun Duri, diabadikan dengan telepon selular. (Yunaidi/NGI)

Dan untuk informasi FK-wan, jawaban atas pertanyaan itu bisa berubah dari waktu ke waktu. Jawaban pada tahun 1990 atau bahkan tahun 2000 sangat berbeda dengan jawaban hari ini. Dan, untuk hari ini, jawabannya adalah tulisan ini.

Hal yang nyata adalah, saat ini teknologi fotografi sudah sedemikian maju, bahkan jauh di atas lima tahun yang lalu. Telepon genggam atau handphone atau HP atau hape, kini hampir tidak ada yang tidak dilengkapi kamera. Tidak heran, kini bisa dikatakan hampir tiap orang membawa kamera kemana-mana.

Bagaimana hasil pemotretan dari kamera hape saat ini? Hasil pengamatan saya atas fotografi hape (hape buatan 2013 ke atas) adalah: foto yang dibuat dengan hape atau kamera saku atau kamera DSLR, tak bisa dibedakan mata biasa dalam tiga kondisi: 1. Tidak dicetak terlalu besar. 2. Yang dipotret tidak bergerak terlalu cepat. 3. Saat pemotretan cahaya mencukupi.

Untuk poin pertama, jurnalisme jelas tidak butuh cetakan terlalu besar. Kalau diangkakan, cetakan besar itu adalah di aras 30 x 45 sentimeter. Dengan angka cropping pun, foto jurnalistik memang tidak pernah terlalu besar.

Pada poin kedua, dari pengalaman saya, acara-acara di jurnalisitk mayoritas tanpa gerakan yang berarti. Hanya foto-foto olahraga yang belum mungkin dipotret dengan hape. Sementara poin ketiga soal cahaya, defenisi cahaya cukup adalah manakala FK-wan memakai kacamata hitam, tetapi tetap dapat melihat dengan jelas, itu artinya cahaya cukup.

Secara umum, kini bisa saya katakan: selamat datang era jurnalisme hape. Hape adalah perangkat jurnalistik seutuhnya baik dari segi borkomunikasi maupun sebagai kamera.

Satu hal yang paling penting dalam fotografi hape adalah, karena penutup lensa kamera hape tidak terlindungi, dia sering kena jari berminyak. Foto yang dihasilkan lensa berminyak tentu sangat buruk. Maka, biasakan selalu membersihkan penutup lensa hape Anda sebelum memotret.

Arbain Rambey (Kompas, Selasa, 9/9/2014)