Samsung Galaxy Tab S, Sentuhan Luar Biasa

Pin It

FK-wan, Samsung akhirnya merilis tablet terbarunya, Galaxy Tab S untuk pasar Indonesia. Seperti kita ketahui bersama, ada dua jenis ukuran Galaxy Tab S yang dirilis oleh produsen elektronik asal Korea Selatan tersebut, yakni Galaxy Tab S dengan ukuran layar 8,4 inci dan 10,5 inci.

GALAXY Tab S menghasilkan gambar yang lebih cerah dan lebih dinamis, warna yang kaya dan render gambar lebih dalam dan tajam. Temukan detail yang hilang, karena diproduksi dengan rasio kontras 100.000: 1 dan berarti 100 kali lebih tinggi daripada layar LCD konvensional dengan 4 juta piksel AMOLED.

Pihak Samsung mengklaim, tablet terbarunya ini disokong layar Super AMOLED yang menggabungkan teknologi tampilan dengan berbagai macam konten premium di dalamnya. Fitur lainnya yang turut disematkan oleh Samsung adalah fitur produktivitas untuk kemudahan pengguna membuka atau menjalankan banyak aplikasi (multitasking).

Andreas Rompies, Vice President IM Business, PT Samsung Electronics Indonesia mengatakan bahwa tablet ini bisa menjadi perangkat pribadi untuk mendapatkan pengalaman visual dan hiburan melalui tampilan layar yang lebih optimal. “Tidak hanya dimanjakan melalui pengalaman visual yang didukung kemampuan prosesor octa core untuk performa yang lebih baik, Galaxy Tab S juga memiliki  warna yang tajam, desain yang tipis, dan ringan,” ujar Andreas.

Galaxy Tab S juga dilengkapi dengan fitur Adaptive Display. Fitur ini mampu menyesuaikan tingkat gamma, saturasi, dan ketajaman warna sesuai dengan aplikasi yang sedang dijalankan oleh pengguna, temperatur warna lingkungan dan pencahayaan sekitar. Dipadukan dengan profesional mode, yakni Amoled Cinema dan Amoled Photo tentunya akan memudahkan pengguna menyesuaikan secara manual untuk hasil video dan foto yang ada.

Samsung juga mengklaim konsumsi energi Galaxy Tab S juga lebih sedikit dibandingkan layar LCD. Hal ini karena dukungan Super AMOLED tidak memerlukan backlight. Dengan ketipisan hanya 6,6 mm dan berat hanya 467 gram (10,5 inci) dan 298 gram (8,4 inci), tablet ini begitu ringan sehingga mudah untuk dibawa.

Berkat dukungan Ultra-Power Saving, baterai yang terpasang di dalam tablet ini memiliki daya tahan yang lama. Keuntungannya, pengguna dapat menikmati beragam hiburan yang lebih panjang tanpa khawatir tentang pengisian ulang baterainya. Berbicara konten, Galaxy Tab S telah dilengkapi dengan S Lime (Samsung Library Time) dan S Air.

Lewat S Lime, pengguna bisa mendapatkan fasilitas gratis berlangganan Kompas (ePaper) selama tiga bulan dan sejumlah majalah digital dari MRA. Sedangn S Air, merupakan sebuah aplikasi untuk mengakses jaringan internet di tempat umum selama dalam jangkauan penyedia WiFi. Dalam hal ini, Samsung telah bekerjasama dengan dua penyedia WiFi terbesar di Indonesia dengan memberikan akses internet secara gratis selama tiga bulan.

Samsung juga menghadirkan Galaxy Gifts Indonesia yang merupakan platform dari Samsung Indonesia. Dalam Galaxy Gifts, Samsung akan memberikan hadiah komplimen setiap harinya untuk pengguna Galaxy Tab S. Program ini bekerjasama dengan beberapa mercant, seperti cafe dan restauran ternama.

Desain Samsung Galaxy Tab S.

Fitur lainnya yang tidak kalah menarik adalah Quick Connect. Lewat fitur ini, pengguna Galaxy Tab S akan lebih mudah untuk berbagi konten dengan perangkat lainnya. Pengguna dapat dengan cepat menemukan Galaxy Tab S miliknya dan menghubungkan ke perangkat terdekat.

Ada juga fitur Multi User Mode yang memudahkan pengguna membuat profil personalnya, mengakses dengan aman dan nayaman melalui Fingerprint Scanner. Selain itu, Samsung juga menyertakan fitur Kids Mode yang sudah tertanam dengan antarmuka dan aplikasi yang aman bagi anak-anak.

Samsung Galaxy Tab S ditawarkan dengan beragam pilihan konektivitas, yakni WiFi atau WiFi plus LTE. Ada dua kapasitas penyimpanan internal yang disediakan oleh Samsung, yaitu 16 GB dan 32 serta slot microSD yang mampu menampung data hingga 128 GB. Pengguna juga bisa memilih varian warna yang tersedia, yakni Titanium Bronze dan Dazzling White.

Soal harga, Samsung menawarkan Galaxy Tab S versi layar 8,4 inci dengan banderol harga Rp5.999.000. Sedangkan untuk ukuran yang lebih besar, yakni 10,1 inci, Samsung menawarkannya dengan harga Rp6.999.000. Tertarik untuk membeli, FK-wan?

sumber: chip.co.id

Fotografi Perjalanan di Mata Tubagus Svarajati

Pin It

Kala semua hal tampak sama, apa lagikah yang kita cari kecuali sesuatu yang berbeda dan segar? Apabila kegembiraan kita semua berfotografi dalam tren saat ini diibaratkan sebagai lapangan luas yang sesak dan gegap-gempita, seseorang bernama Tubagus Svarajati justru keluar lapangan. Ia meniti rute yang sunyi.

Oleh Reynold Sumayku

Dalam kumpulan esainya yang dibukukan dengan judul PHōTAGōGóS: Terang-Gelap Fotografi di Indonesia, Tubagus membahas fotografi—dunia yang semakin riuh. Namun, pembahasannya justru tidak dengan tema yang riuh. Cahaya sebagai elemen pembentuk citra fotografis tidak dipandangnya dengan cara umum sebagai ilmu terapan demi pencapaian estetika, tetapi jauh, jauh melampaui itu.

Tubagus mengapungkan pemikiran-pemikiran bernas yang filosofis. Pertanyaan-pertanyaan yang diangkatnya, mengenai fotografi, terentang lebar. Mulai dari tema tentang pas foto sampai seni melihat. Dari jurnalisme hingga salon. Dari foto sebagai perekam kenangan semata hingga foto sebagai bahasa visual yang dalam maknanya.

PHōTAGōGóS bukan sebuah buku “how to” tentang problema teknis untuk mencapai hasil foto yang bagus dalam artian indah di mata. Melainkan, dalam hal ini, ia mengangkat pembuatan foto yang juga bisa mengganggu atau menggugah rasa tertentu. Foto-foto yang indah di hati dan dalam pemikiran. Proses dan maksud pembuatan foto pun dibahas kritis. Tajam. Barangkali agak menyinggung—karena banyak benarnya—namun perlu.

Misalnya saja tentang fotografi perjalanan. Topik itu adalah yang “paling ringan” dalam bukunya, dan agaknya cukup menarik untuk dikutip di sini.

Tentang Memotret Ijen:

“Ijen adalah saksi fotografis yang penting dalam dunia jurnalistik mondial. Ia telah membetot fotografer dunia Sebastiao Salgado dan James Nachtwey—atau entah siapa lagi—untuk berkunjung dan merekam cara kerja penambang belerang tradisional di sana. Dan—kita tahu—para penambang itu saudara kita, manusia Indonesia. (halaman 66-67)

Dengan latar seperti itulah, Salgado dan Nachtwey juga Anda sekalian berduyun-duyun memotret Ijen. Memotret tragika anak manusia yang berjuang di kedalaman kawah sebuah gunung yang setiap saat bakal mengguntur.

Tapi aku ingin mempertanyakan dan menggugat, manakala foto-foto yang terlahir dari keperihan Ijen itu sekadar keindahan salonis yang kemayu. Di manakah empati manusia terhadap manusia lainnya? Adakah Tuhan terlelap di sana?” (halaman 69)

Ijen dengan fenomena penambang belerangnya dalam tahun-tahun belakangan ini semakin mendunia. Mondial. Itu lantaran api biru. Akan tetapi, saat gelombang pemburu foto sejenis menyapu gunungapi itu, pertanyaan dari Tubagus menjadi relevan. Tidaklah penting lagi apakah kita pergi ke Ijen untuk meniru Salgado, Nachtwey, Michael Yamashita, Rama Surya, atau Olivier Grunewald. Tubagus ada benarnya.

Tentang Memotret Waisak di Borobudur:

“Di pelataran ribuan murid Siddharta tetap melangkah dengan tenang dan terus bersembah-sujud. Peluh pun mulai berleleran di dahi dan tengkuk mereka, namun mereka tetap menapak ringan dan berpasrah diri mengenang junjungan serta ajaran Sang Buddha Gautama.

Tapi, jejak-jejak langkah dan gestur mereka diikuti saksama oleh ratusan pasang mata. Orang-orang itu memegang berjenis-jenis kamera sembari memotret. Simfoni “klik-klik-klik” bercampur dengan alunan puja-puji dalam bahasa Pali. Semakin siang para pemotret membentuk kumpulannya sendiri. Puncaknya pada sore hari: dari semua penjuru pemotret mengepung umat Buddha yang sedang berpuja-bhakti. (halaman 70)

Bagian yang ini sangat relevan dan terbukti tahun lalu. Jangan sampai terjadi lagi, atas dasar alasan apapun yang kita bawa saat memotretnya.

Tentang Pelancong:

“Seorang pelancong juga seorang kawan bagi penduduk lokal. Pelancong tak sepantasnya memelototi penduduk setempat dengan pandangan nyinyir, namun ia mesti memandang dengan sepenuh empati. Bukankah perbedaan atau pluralitas kultural tak seharusnya koersif satu dengan lainnya. Sebab itu, simpati dan kesepenuhan hormat kepada mereka adalah modal awal mendapatkan foto-foto potret yang natural. (halaman 74)

Hall Buell, pensiunan editor foto Associated Press, dalam suatu risalah mengatakan, “I assure you, as a journalist who has coped with the challenges of technology and content, that content is more difficult.” Terbersit, Buell lebih merayakan konten ketimbang persoalan teknologi. Artinya apa? Bagi jurnalis, alat atau peranti pemotretan adalah sarana, selebihnya adalah isi foto yang bergaung.

Dan saya yakin, karya foto pelesiran pun bisa dicandra dengan cara pandang Buell tadi. Dengan begitu, makna dan proses signifikasinya, meski tidak diproduksi seragam oleh setiap orang, toh, itu didudukkan pada porsi yang lebih terhormat bagi relasi kultural antarmanusia.” (halaman 75-76)

Dari jalan yang telah dipilihnya, jalan yang hening dan jauh dari sorak-sorai, Tubagus mendapatkan sudut pandang yang lebih lapang. Dari tengah-tengah kesunyian, ia  menelaah, merenungkan, pun mengkritisi. Tak pelak, karangan-karangannya menjadi penting bagi mereka yang penat dengan keramaian nan membosankan. Bagi mereka yang membutuhkan keseimbangan.

Pada saatnya, Tubagus berbelok dari jalan sunyi itu, kembali masuk ke kerumunan di tengah lapangan. Untuk “mewartakan” hal-hal yang tidak terlihat karena terhalang punggung kerumunan. Selayaknya kita berterima kasih.***

Reynold Sumayku di Twitter | Tubagus P. Svarajati

*PHōTAGōGóS: Sang pembawa Cahya (halaman xxiii); jumlah halaman: 201; penerbit: Suka Buku, 2013; penyunting: Wahyudin AS; pengantar: Oscar Motuloh

Tips Potrait Photography

Pin It

FK-wan, membuat foto potrait tentunya adalah hal lumrah yang dilakukan fotografer. Bisa saja foto yang FK-wan hasilkan mengenai keluarga, teman, atau sahabat yang sedang liburan. Atau mungkin FK-wan mengambil foto potrait untuk menggambarkan seseorang, misalnya seorang tukang las, atau malah pembuat kue?

Pemain Tehyan di tepi Sungai Cisadane. Memafaatkan satu flash eksternal dalam pengambilan foto ini.

Kami memiliki beberapa tips yang mungkin bisa FK-wan praktekkan saat membuat foto potrait.

1. Gunakan Flash

Cobalah menggunakan flash saat membuat foto potrait. Hal ini bisa membantu FK-wan saat kekurangan cahaya, atau bahkan menghasilkan foto yang menantang cahaya sekalipun. Menggunakan flash tambahan tentu bisa menghasilkan cahaya yang mampu memberikan mood pada foto yang FK-wan hasilkan. Menggunakan strobist bisa membantu FK-wan berkreasi dalam menghasilkan foto potrait. Untuk on-camera flash, sebisa mungkin dihindarkan. Flash langsung dari kamera menghasilkan cahaya yang terlalu datar.

2. Memanfaatkan Lingkungan Sekitar

FK-wan bisa memanfaatkan lingkungan sekitar untuk mendukung subyek yang akan FK-wan foto. Misalnya petani, FK-wan bisa memanfaatkan unsur sekitar seperti sawah atau ladang sebagai latar pengambilan foto potrait yang akan FK-wan lakukan. Carilah angle yang mendukung suasana foto FK-wan.

Poul E Bitsch, President Director Discovery Hotel & Resorts dalam pengambilan foto di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

3. Memanfaatkan Refleksi

Saat mengambil foto General Manager Hotel Borobudur Jakarta. Diluar hujan mengguyur bumi dengan deras. Sedangkan di dalam ruangan, tamu-tamu hotel memenuhi salah satu restaurant di hotel ini, sudah terlalu banyak tempat di hotel ini saya jadikan background untuk membuat beberapa staff penting hotel ini. Tak kehabisan akal, saya memanfaatkan refleksi di kaca untuk menonjolkan pribadi sang General Manager yang juga berorientasi terhadap sustainable environment.

4. Variasi Warna

FK-wan bisa memanfaatkan warna yang menarik untuk menghasilan foto potrait. Menggabungkan beberapa warna untuk menghasilkan foto bisa menjadi salah satu opsi.

5. Orientasi Teknis Fotografi

Penggunaan aperture  yang tepat bisa membantu FK-wan dalam menghasilkan foto potrait yang menari. Untuk mengisolasi subyek dengan background, FK-wan bisa menggunakan aperture besar, sedangkan untuk memberikan efek tajam pada seluruh bagian foto FK-wan, penggunaan aperture kecil bisa menjadi pilihan.

6. Menantang Matahari

Jangan ragu unttuk menantang matahari. Kadang kita mendapat efek yang menarik saat mengambil foto potrait menantang matahari. Saat memotret Ramon Y Tungka, seorang presenter petualangan. Saya memanfaatkan sinar matahari dari belakang untuk memberikan kesan macho pada Ramon. Ada banyak efek yang bisa FK-wan lakukan dengan sinar matahari, salah satunya ada Hi-Key.

Memanfaatkan backlight.

7. Mood Paling Penting

Tangkaplah mood dalam foto potrait yang FK-wan hasilkan. Jika ingin kesan ceria, berilah suasana ceria pada foto FK-wan, begitu juga sebaliknya.

Demikian tips singkat ini. Semoga bermanfaat.

Pameran Foto Perjalanan Ke Tanah Leluhur Danau Sentarum

Pin It

“Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum”

Keberadaan danau Sentarum mungkin belum se-populer danau-danau lain yang tersebar di nusantara. Keberadaannya di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia yang sepi membuatnya seakan terisolir dan cenderung luput dari perhatian penyelenggara negara ini, dari wisatawan lokal dan internasional sekalipun.

Taman Nasional Danau Sentarum berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, kira-kira 700 kilometer arah Timur Laut kota Pontianak. Secara administrasi kawasan ini meliputi tujuh kecamatan terdiri dari Kecamatan Batang Lupar, Badau, Embau, Bunut, Suhaid, Selimbau dan Kecamatan Semitau.

Danau Sentarum adalah asa bagi kehidupan dua kelompok masyarakat, Melayu dan Dayak yang tinggal menetap di sekitaran danau itu. Bila mayoritas masyarakat Melayu memiliki mata pencaharian sebagai nelayan yang terbiasa menjala, memukat, memasang sentaban (jebakan ikan), memelihara ikan dalam keramba serta mengumpulkan ikan-ikan hias, maka masyarakat Dayak yang mayoritas terdiri dari suku Dayak Iban, Kantuk, Embaloh, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan adalah peladang dan pemburu yang tangguh.

Pameran foto bertema “Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum” yang merangkum sebanyak 61 foto yang bercerita tentang keanekaragaman alam, budaya dan pranata sosial lainnya yang diharapkan dapat membuka mata kita akan keberadaannya supaya tidak hanya hadir menjadi pelengkap Bumi Pertiwi melainkan juga merasakannya sebagai bagian dari wilayah NKRI yang utuh dan memiliki keistimewaan tersendiri, sama seperti daerah manapun di Nusantara ini.

Pameran foto “Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum” dilaksanakan 26 Juni, dan dijadwalkan berlangsung hingga 8 Agustus 2014 di Galeri House Of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya.

Kreatif Dengan Fisheye

Pin It

FK-wan, biasanya lensa fisheye harganya sangat mahal, tapi model dengan harga realistis kini telah hadir di pasaran. Jadi, inilah waktu sempurna untuk bereksperimen dengan efek kratif keren ini. Cobalah mencari penawaran yang paling bagus, dan FK-wan bisa menjajal lensa Samyang 8 mm f/3.5 UMC CS II model sederhana dengan fokus manual untuk Canon dan Nikon dengan harga sekitar Rp 3.5 jutaan, dan versi Micro Four Thirds untuk sistem kamera Panasonis dan Olympus dengan harga bahkan lebih murah.

Menggunakan lensa fisheye untuk mengabadikan lanskap. (Yunaidi)

Seperti lensa wide, lensa fisheye memungkinkan FK-wan untuk merekam objek lebih luas. Efek distorsi yang dihasilkan pun bisa memberikan efek yang lebih menawan.

Bagi sebagaian kalangan, lensa fisheye cocok untuk fotografi arsitektur dan potrait. Fotografer musik rock, John McMurtie bahkan menggunakannya untuk mendapatkan foto unik dari band dan penonton di konser. Untuk masalah framing, FK-wan harus mendekatkan pada obyek, agar obye tidak tampak kecil pada hasil akhir foto. Cara ini mungkin akan terasa janggal karena biasanya FK-wan merekam pada jarak tertentu dari obyek. Obyek simetri juga cocok menjadi obyek fisheye, demikian juga sekelompok orang.

Menghasilkan efek bumi bulat saat mengabadikan Kota Sydney dengan lensa fisheye. (Yunaidi)

Hal yang perlu diperhatikan dsaat menggunakan lensa fisheye:

- Lensa fisheye berfungsi dengan cara yang berbeda pada kamera APS-C dan full-frame, jadi periksalah jangkauan yang diperoleh untuk kamera FK-wan sebelum membelinya.

- Sudut yang didapat dengan lensa fihseye sangat lebar. Jadi sebaiknya sebelum memotret hendaknya FK-wan memperhatikan elemen lain yang ada yang memungkinkan masuk kedalam lensa.

- Dengan sudut yang begitu lebar diperoleh dengan lensa fisheye, maka tak jarang area langit (juga matahari) akan masuk kedalam frame. Hal ini akan menyebabkan perbedaan kontras pada foto FK-wan.

- Filter ND tidak bisa dipasang pada lensa fisheye, jadi sebaiknya FK-wan menggunakan format RAW dalam mengambil foto sehingga memudahkan FK-wan untuk mengkoreksi expsoure nantinya.

sumber: Digital Camera Indonesia Edisi 58

Memasukkan Manusia Dalam Landscape Photography

Pin It

Dear FK-wan,

Tentu banyak diantara kita yang gemar mengabadikan foto pemandangan alam nan menawan. Tak jarang objek seperti, laut, hutan, pegunungan, danau, dan segala macam yang indah menjadi sasaran bidikan moncong lensa kita. Foto-foto yang dihasilkan pun tentunya sangat beragam tergantung saat pengambilannya. Ada FK-wan yang harus bangun sedari pagi untuk menunggu matahari terbit, ada juga yang memanfaatkan terik matahari untuk menghasilkan landscape photography dengan langit biru menggelora, dan ada juga yang menunggu senja untuk mengabadikan sebuah foto lanskap.

Memasukkan manusia pada foto lanskap pegunungan di Bali.

Landscape photography yang kita hasilkan tentunya sangat jarang memasukkan unsur manusia. Mungkin padangan kita selama ini, kehadiran manusia pada landscape photography akan mengubah cerita foto tersebut. Namun belakangan ini, landscape photography yang dihasilkan cukup banyak memasukkan unsur manusia ke dalamnya. Hal ini tentu saja mengubah pandangan selama ini bahwa landscape photography hanya memuat foto alam tanpa elemen manusia.

Memasukkan elemen manusia dalam landscape photography tentunya akan memperkuat cerita pada foto tersebut. Namun dengan syarat, jangan sampai proporsi kehadiran manusia dalam foto tersebut mendapat jatah ebih besar dari lanskap itu sendiri. Kehadiran manusia dalam foto lanskap hendaknya menunjang cerita dari foto itu sendiri. Manusia dan alam tentunya saling terkait satu sama lain. Kehadiran manusia dalam foto lanskap akan memberikan gambaran tentang kondisi geografis dan sosial.

Kehadiran manusia juga bisa memberikan skala pada landscape photography. Misalnya saat mengabadikan lanscape pegunungan, memasukkan unsur manusia akan memberikan pembanding seberapa besar dan tinggi gunung tersebut jika dibanding manusia. Hal ini akan memudahkan pembaca foto untuk memahami kondisi geografis pegunungan tersebut. Begitu juga saat mengabadikan foto pohon yang tinggi menjulang, elemen manusia akan membantu para pembaca foto untuk mendapat skala dari pohon tersebut.

Jadi FK-wan, pada dasarnya kehadiran manusia dalam landscape photography tak ada salahnya. Selama kehadiran manusia tersebut bisa memberikan pesan lebih pada foto yang dihasilkan. Dan yang paling penting dicatat, berilah proporsi yang seimbang antara manusia dan landscape photography yang dihasilkan untuk menghasilkan foto yang memberikan pesan bagi pembaca foto FK-wan. Semoga bermanfaat.

Simulator Aperture, Shutter Speed, dan ISO

Pin It

Dear FK-wan, tentunya tidak ada kata berhenti untuk belajar bukan? Dalam fotografi, hal mendasar yakni exposure (aperture, shutter speed, dan iso) adalah mutlak untuk diketahui dan dipahami. Dengan mempelajari hal paling mendasari ini tentunya kita akan banyak mendapat manfaat kelak nantinya saat melakukan pemotretatn dengan berbagai situasi dan kondisi pencahayaan yang beragam.

Interface Simulasi Kamera

Tentunya FK-wan ada yang masih bingung dalam memahami exposure ini. Kami menemui sebuah situs yang menarik berupa simulasi dalam penggunaan aperture, shutter speed, dan iso yang tentunya akan memberikan FK-wan kemudahan untuk mempelajarinya.

Dalam simulasi ini, FK-wan bisa dengan mudah mempelajari berbagai mode pemotretatn seperti Manual, Shutter Priority, dan Aperture Priority. Pada Mode Manual, FK-wan dengan mudah mempelajari bagaimana Aperture, Shutter Speed, dan ISO mempengaruhi Exposure. FK-wan hanya perlu menggeser tombol Aperture, Shutter Speed, dan ISO untuk mendapat hasil apakah very underexposed, slightly underexposed, good exposure, slightly overexposed, very overexposed.

Untuk menggunakannya, FK-wan bisa langsung menggunjungi link berikut. Semoga bermanfaat.

Foto Lanskap: Perlu Langit Seberapa Banyak?

Pin It

Terkait dengan horizon (cakrawala) dalam membuat foto lanskap, pada dasarnya terdapat empat pilihan komposisi.

Pilihan pertama: horizon diletakkan kira-kira di sepertiga bagian atas dalam komposisi. Contohnya karya Abdul Aziz.

Kedua: horizon di bagian tengah. Contohnya karya Dany Fachry.

Ketiga: horizon di bagian bawah. Contohnya karya Hendra Permana.

Keempat: horizon tidak disertakan samasekali alias tidak ada bagian langit dalam foto. Contohnya karya Zulkarnaen SL.

Namun, pada kenyataannya, ketika memotret lanskap (bentang alam), banyak orang terlalu banyak memberikan ruang kepada langit dalam komposisi fotonya. Mungkin pilihan itu diambil karena terpukau oleh bentukan awan, warna biru langit, atau aneka warna saat matahari terbit dan terbenam. Cukup mudah kita temukan foto-foto lanskap yang memberikan porsi lebih besar kepada langit tanpa alasan yang tepat: hanya karena warnanya sedang biru—atau malah putih.

Di sini saya buatkan kroping dari foto-foto karya saya sendiri, untuk menggambarkan pemberian ruang kepada langit yang terlalu luas dalam suatu komposisi foto, meskipun tanpa makna khusus:

Pilihan-pilihan semacam ini biasanya membuat suatu foto kurang bermakna. Mungkin saja indah secara grafis, atau indah warnanya, namun dalam hal ini “tetap kurang penting”.

Semboyan Fotokita.net adalah “Indah Bermakna”. Kata “bermakna” yang dimaksud adalah yang seiring dengan semboyan National Geographic yakni “menginspirasi orang untuk peduli kepada Planet Bumi”. Pada saat semangat itu diterjemahkan ke dalam pemotretan lanskap, hal yang penting adalah menangkap realita bentang alam. Lagipula, kata geographic memang mengacu kepada bentang alam dan rupa Bumi.

Seberapa sering kita melihat foto lanskap dengan porsi langit yang lebih besar daripada rupa Bumi, dalam majalah National Geographic? Pasti jarang. Biasanya, langit mendapat proporsi maksimal setengah saja dari komposisi foto walaupun sedang bagus awannya atau bagus warnanya. Bahkan, yang paling sering terjadi, langit hanya diletakkan pada sepertiga bagian atas dalam frame.

Dalam konteks “Indah Bermakna” di Fotokita.net, pilihan untuk memberikan porsi yang lebih besar kepada langit biasanya karena memang ada hal penting yang ingin ditonjolkan. Misalnya saja dalam pemotretan star trail atau informasi mengenai cuaca buruk.

Berikut beberapa contoh komposisi foto yang pasti lebih berhasil jika ingin menyertakan porsi lebih besar untuk langit.

Karya Randry Tama:

Karya Surendra:

Keterangan: Anda dapat meng-klik foto-foto member Fotokita.net di atas untuk berinteraksi.

Salam,

Reynold Sumayku | fotografer, editor foto | web: reynoldsumayku.com | twitter: @rsumayku

Sisi gelap Piala Dunia 2014 Brazil di luar arena

Pin It

Gempita penyelenggaraan piala dunia 2014 di Brazil ternyata menyimpan juga duka kesedihan. Bagai 2 sisi mata uang, apa yang kita lihat di layar kaca dengan hingar bingar pemain bintang sepak bola juga terekam realitas sebaliknya.

OFFSIDE_BRAZIL2Rekaman gambar demonstrasi yang bisa kita lihat ini mungkin akan jarang terlihat di layar kaca. Sisi gelap ini berhasil didokumentasikan oleh 5 fotografer Magnum dan 5 fotografer lokal yang bertugas merekam sisi lain keramaian tersebut dalam bingkai foto demontrasi warga lokal penentang penyelenggaraan piala dunia 2014.

OFFSIDE_BRAZIL3

Uniknya, penggunaan sosial media Tumblr oleh Magnum dipilih tentunya dengan alasan kemudahan dan juga kecepatan agar bisa menyebar dan viral di dunia maya. Kita tahu, peran sosial media saat ini menjadi vital sebagai salah satu media perantara informasi. Karena bentuknya visual, maka medium yang tepat bisa jadi seperti tumblr akan menjadi sangat efektif dengan fasilitas reblognya

Reblog TumblrInspirasi ini tentunya bisa kita tiru untuk pembuatan project sebuah foto yang sifatnya simultan untuk mendokumentasikan sebuah acara dalam limit waktu tertentu. Untuk mengikuti updatenya Anda bisa ikuti tautan offside Brazil dan twitter Magnum. Untuk mengunjungi laman resminya bisa datang ke Magnum.

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

Lumix DMC-FZ1000 Kamera Kejutan Dari Panasonic

Pin It

FK-wan, produsen kamera Panasonic secara mengejutkan mengeluarkan kamera terbarunya yang menawarkan berbagai fitur dan fungsi yang memukau. Kamera tipe Lumix DMC-FZ1000 ini menjadi penerus kesuksesan seri lumix sebelumnya.

Panasonic Lumix DMC-FZ1000

Dilengkapi dengan 20.1MP High Sensitivity MOS Sensor dan venus engine untuk meningkatkan sensitivitas optik, resolusi, gradasi dan reproduksi warna maksimal dalam menghasilkan foto dan video. Selain itu, lensa besutan Leica yang sudah sangat mumpuni dalam teknologi lensa juga disematkan pada kamera ini.

Hal yang paling mencengangkan adalah focal length dengan renting wide hingga tele. Bayangkan saja, Lumix DMC-FZ1000 ini memiliki focal length 25-400mm (35mm equivalent) dengan aperture range f/2.8-4.

FK-wan yang senang mengabadikan foto hewan kecil, pemilihan mode macro saat pemotretan akan memudahkan FK-wan dalam menangkap objek berukuran kecil dari jarak terdekat 3 cm. Untuk menghindari getaran tangan saat pemotretan, teknologi hybrid optical image stabilization juga turut disematkan untuk memaksimalkan hasil dari foto yang ditangkap.

Hal yang tak kalah menarik adalah kemampuan kamera ini mengambil foto hingga 50 fps (AFS dengan Elektronik Shutter). Dilengkapi dengan 49 titik fokus, tentunya fungsi ini akan memudahkan FK-wan dalam menangkap subyek foto agar lebih jelas titik yang difokuskan.

Tren videografi juga dijawab dengan gamblang oleh Lumix DMC-FZ1000 ini. Kemampuan merekam 4K Video menjadi nilai lebih dari kamera yang berbobot 831 gram (cukup ringan untuk dibawa traveling). Tak salah, kamera ini di klaim sebagai kamera pertama yang memiliki kemampuan merekam 4K video dikelasnya.

Kamera ini mulai dipasarkan secara global pada 31 Juli 2014 dengan harga $897.99. FK-wan tertarik untuk menjajal kemampuan kamera ini? Untuk informasi lebih lanjut, FK-wan bisa mengunjungi website Panasonic.