Mengasilkan Foto Sunrise Dengan Smartphone

Pin It

Kebanyakan bagi para pemilik smartphone sering menggunakan smartphone-nya untuk narsis, ya foto-foto tentunya. Rasanya belum lengkap jika saat berpergian tidak mengabadikan momen-momen tersebut. Apalagi kalau sedang menuju kantor dijalan pagi-pagi banyak pemandangan yang sering ditemui, kamera jadi perihal yang wajib untuk dibawa.

Suasana pagi di Desa Klipoh, tak jauh dari Candi Borobudur. (Yunaidi)

Berikut sedikit cara untuk mendapatkan foto sunrise:

1. Perhatikan dari mana arah cahaya matahari muncul, karena background harus memiliki cahaya yang maksimal dibandingkan objek

2. Jangan pernah menggunakan zoom pada smartphone karena hasilnya blur dan bad quality

3. Perhatikan ISO dan komposisi

4. Kunci fokus agar foto yang dihasilkan benar secara fokus

5. Pakai dua tangan, smartphone memang kecil dan tidak seberat DSLR tapi agar foto yang FK-wan hasilkan tidak blur maka lebih baik menggunakan dua tangan agar lebih kokoh

6. Banyak sekali aplikasi yang tersedia untuk pengolahan foto di smartphone. FK-wan bisa menggunakan Intagram, Camera360, TopCamera, dll untuk mengedit foto secara instan. Dan semua aplikasi tersebut bisa di unduh langsung ke smartphone FK-wan. Tidak ribet dan gratis pula.

Keinginan untuk jepret-jepret tidak menghentikan langkah FK-wan, jangan lupa untuk share di aplikasi Instagram, Camera360, pinterest dan semua photo sharing apps yang ada di smarthphone FK-wan, sehingga tidak perlu membawa kamera DSLR, tapi FK-wan bisa membuat smartphone photography dengan hasil yang tidak kalah keren.

Deasy Megawati Putri/travelfotografi.co.id

Samsung NX300 Teman Pecinta Fotografi

Pin It

Salah satu catatan Samsung­ di   tahun 2013 adalah keseriusannya berbisnis di segmen kamera mirrorless. Samsung NX300 menjadi salah satu produk kamera dengan hasil yang memuaskan dari Samsung.

Foto: Samsung

Samsung NX300 ini adalah sebuah kamera mirrorless yang hadir dengan gaya retro atau vintage. Di mana gaya tersebut banyak diadopsi juga oleh para produsen kamera pengembang mirrorless. Semua itu serasa kembali ke masa lalu, tetapi hanya sebatas kemasan dari kecanggihan dan teknologi.

Tampilan depannya memang tidak jauh beda dari kakaknya (NX210). Namun, begitu kita lirik bagian belakang dan jerohannya, tentu jauh berbeda. Samsung membekali NX300 dengan layar AMOLED 3.31 inci dengan Tilt Touch Panel beresolusi 768.000 dots yang tentunya juga memberikan hasil preview gambar yang baik. Selain itu, FK-wan juga dapat mengatur pengoperasian serta titik fokus dari sentuhan-sentuhan di layar AMOLED tersebut.

Samsung juga menempatkan tombol-tombol pada posisi yang mudah diakses dan familiar. Selain itu, karena dalam kesempatan pengujian ini, Samsung menyertakan lensa 18-55 mm III OIS, FK-wan juga dapat menggunakan tombol i-Function untuk beberapa pengaturan. Untuk perekaman video, cukup menekan tombol record yang berada di sudut kanan atas bagian belakang kamera.

Beragam Penyempurnaan
Untuk menghadapi persaingan dengan mirrorless lainnya, Samsung memberikan beragam penyempurnaan dan teknologi terbaru pada NX300 ini. Menilik dapur pacunya, sensor APSC-CMOS beresolusi 20.3 Megapixel siap merekam berbagai momen dengan dukungan lensa Samsung yang memiliki aperture besar, kecepatan rana hingga 1/6000 second, dan rentang ISO yang dapat dimainkan antara 100-25600.

Selain itu, Samsung juga membekali mirrorrless terbarunya ini dengan New Image Engine DRIMe IV yang memungkinkan NX300 melakukan pengambilan gambar dengan cepat hingga 8.6 fps, serta melakukan perekaman gambar maupun video berformat 3D dengan dukungan lensa NX 45 mm f/1.8 2D/3D. Advance Hybrid AF System-nya juga terbukti ampuh dalam pengujian CHIP Foto Video kali ini.

Beragam feature dari Smart Mode dan Smart Filter akan memungkinkan FK-wan untuk menciptakan gambar-gambar kreatif hanya dengan satu device, yaitu NX300. Dari mode Waterfall, Beauty Face, Best Face, hingga deretan 13 filter kreatif terpatri di bodi kokoh NX300. Hasil gambarnya juga dapat disimpan dalam format RAW.

Sejauh pengujian ini, mirrorles yang hadir ada dalam tiga warna pilihan (coklat, hitam, putih) tersebut, menyajikan hasil gambar yang baik dengan warna dan detail yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun, ada sedikit catatan, ketika pertama kali mendapat paket NX300, FK-wan akan mendapati Picture Wizard pada pemilihan mode warna “Retro” yang sedikit membuat kaget karena menghasilkan warna gambar cenderung kusam. Tetapi, itu hanyalah sebatas pengaturan saja. Picture Wizard tersebut dapat diubah pada pengaturan sesuai selera. Hanya baterainya saja yang kurang memuaskan, yaitu boros pada pemakaian, terlebih jika terkoneksi Wi-Fi dalam penggunaannya.

Bagi FK-wan yang membutuhkan sharing foto dengan cepat, NX300 juga dapat mengerjakanannya. Hal tersebut berkat adanya Wi-Fi direct yang memungkinkan untuk berbagi foto atau video ke Email SNS + Cloud, Facebook, Picasa, YouTube, SkyDrive Allshare (penyimpanan Web, perangkat DLNA), dan feature NFC. Selain itu, dengan Wi-Fi dan MobileLink (aplikasi smart camera untuk Android dan iOS) yang dapat digunakan sebagai media transfer foto dan viewfinder jarak jauh. Serta dalam paket penjualannya, Samsung menyertakan CD Adobe Lightroom 4.

Wi-Fi memang sebuah gebrakan besar yang mungkin menjadi feature “wajib” kamera-kamera keluaran baru. Karena, dengan feature Wi-Fi, FK-wan dapat terkoneksi dengan cepat ke berbagai jaringan. Hal itulah yang dilakukan Samsung kali ini, menyediakan gambar dengan cepat, serta membagikannya dengan cepat pula.

Seperti slogan yang diusungnya, yaitu “Shoot Fast, Share Faster”.

Spesifikasi Samsung NX300

Resolusi :   20.3 Megapixel

Image Engine :   DRIMe IV
ISO                   :   Auto, 100 – 25600
Layar                :   AMOLED 3.31 inci dengan Tilt Touch Panel
Video               :   Full HD Movie 1080 60p
Dimensi          :   122 (W) x 63.7 (H) x 40.7 (D) mm (tanpa part tambahan)
Berat               :   565  gram (dengan lensa 18-55 mm III OIS)

Taufan Yusuf Nugrofo/Chip

Memotret Siluet

Pin It

Tujuan memotret siluet salah satunya adalah ingin menghilangkan detail dan tekstur subjek menjadi bentuk yang sederhana dengan latar belakang terang. Pengaturan kecepatan dan diafragma memotret siluet tergantung dari cahaya yang ada waktu pemotretan berlangsung. Dibutuhkan ketepatan dalam mengatur kecepatan dan diafragma sehingga objek yang direkam memiliki kontur dan ketajaman yang tepat.

Pendaki melewati punggungan Gunung Rinjani menuju puncak Anjani diketinggian 3726 mdpl. (foto/ Yunaidi Joepoet)

Dibanyak foto, siluet mampu membuat foto yang menakjubkan. Dengan menampilkan foto dengan subjek berwarna hitam jauh dari gangguan dan campuran detail warna lainnya. Foto siluet yang paling populer adalah dengan menggunakan latar belakang atau background yang berwarna cerah. Contohnya, sunrise dan sunset yang mampu memberikan pencahayaan yang sangat baik.

Kunci fotografi siluet atau Silhouette Photography adalah matering dan eksposur. Berikut cara mendapatkan siluet:

1. Matering ke background

Foto siluet adalah menempatkan objek utama di depan cahaya, lalu matering (mengatur exposure) ke arahbackground, bukan ke objek utama.

2. Fokus ke arah subjek

Gunakan setting kamera mode Auto untuk mempermudah melakukan matering ke background.

3. Matikan lampu flash

Siluet adalah cara yang tepat untuk menyampaikan drama, misteri, emosi dan mood pada foto, karena itu kita menginginkan objek utama terlihat gelap, maka lampu flash harus dimatikan.

4. Lakukan framing dan komposisi pada jepretan FK-wan dengan menempatkannya di depan view yang menarik, tetapi dengan background yang terang. Background yang menarik bisa berupa langit tanpa awan yang cerah dengan pengaturan matahari. Posisikan cahaya paling terang di belakang subjek sehingga terkesan FK-wan sedang menyembunyikan sumber cahaya tersebut.

Efek-efek siluet diterapkan untuk berbagai jenis subjek pemotretan baik itu memotret orang (potrait), benda mati (Still life) dan pemFK-wanngan (landscape). Kreatiflah membingkai siluet dalam ruang bidik kamera.

Deasy Megawati Putri/travelfotografi.co.id

Kenali Pengaturan Ini Sebelum Memotret

Pin It

Pernahkah FK-wan mengalami pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan FK-wan menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 200 saja cukup.

ilustrasi: thinkstockphotos

FK-wan baru menyadari bahwa FK-wan menggunakan settingan white balance untuk medung, padahal dari awal acaranya dilakukan dengan penerangan lampu neon.

Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.

Secara mendasar, ada 5 setting di kamera digital FK-wan yang harus selalu diperiksa sebelum jari memencet tombol shutter pertama kali dalam sebuah sesi pemotretan.

1. Periksa Settingan White Balance FK-wan

Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau FK-wan percaya dengan kamera, setwhite balance di posisi Auto.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Ini ampuh untuk menghindari foto yang over exposure. Highlight warning adalah penFK-wan yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias over exposed. Selain menggunakan highlight warning, FK-wan juga bisa memeriksa histogram di LCD kamera digital FK-wan.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam FK-wan memotret pesta ulang tahun teman FK-wan di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dijalan raya.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat FK-wan hunting di kebun binatang, tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang FK-wan miliki kapasitasnya berbeda. Format foto, apakah harus memili JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto FK-wan dimulai.

5. Periksa Setting Mode Exposure Kamera

Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang FK-wan pilih: Manual – Aperture Priority – Shutter Priority – Mode Program dan beberapa preset bawaan kamera digital. Pastikan FK-wan sudah mengetahui mode mana yang akan FK-wan pilih.

Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting FK-wan akan semakin mudah.

Deasy megawati putri/ travelfotografi.co.id

Pameran Foto “Sea of the Ancestors” by Beat Presser

Pin It

Sea-of-the-Ancestors

Galeri Foto Jurnalistik Antara, Goethe Institut Indonesien, Swiss Arts Council Prohelvetia & Swiss Embassy Jakarta
presents photo exhibition

“Sea of the Ancestors” by Beat Presser

The author and photographer Beat Presser presents his story of the Dhows (traditional boat) along the East African Coast and Pinisi in Indonesia.
The exhibition will showcase 79 pictures not just about the traditional boat but also celebrates the spirit of the seaman from East African coast and the well-known Bugis tribe. His view also extend to culture, landscape and history of the maritime traditions.

Beat Presser lived and worked in Madagascar from 1988-1992 and later continued in 2009-2010 along the East African Coast. Now he looks into ships, trade and travels in the Indonesian Archipelago.

OPENING
Friday, September 19, 2014
at 7.30 pm

by Dr. Heinrich Bloemeke
Director Goethe-Institut Indonesia
Regional representative
Southeast Asia/Australia/New Zealand

Daniel Derzic
Chargé d’affaires a.i.
Embassy of Switzerland

Exhibition Date
SEPTEMBER 19 – OCTOBER 5, 2014

Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara no. 59 Pasar Baru,
Jakarta 10710, Telp./fax 021.3458771

GRATIS/Free of Charge

supported by:
Galeri Foto Jurnalistik Antara,
Goethe-Institut Indonesien,
Swiss Arts Council Prohelvetia
& Swiss Embassy Jakarta

Lukisan, Foto, dan Pencahayaan ala Walter Spies

Pin It

Lukisan-lukisan yang tergantung di dinding, yang abadi dalam kesunyiannya itu, telah sejak lama memengaruhi dunia fotografi.

Oleh Reynold Sumayku

Ditilik jauh ke belakang, seni lukis bahkan telah memengaruhi pembuatan foto sejak saat rintisan fotografi itu sendiri dimulai—apakah sejak camera obscura (masa klasik hingga sekitar abad ke-17) atau era Niépce dan Louis Daguerre (abad ke-19).

Kedua format dua dimensi ini, lukisan dan foto, sama-sama dapat merepresentasikan apa yang dilihat—dan digagas—oleh manusia. Namun, karena lukisan telah eksis jauh terlebih dahulu maka fotografi terus-menerus berada pada jalur yang dirintis oleh pendahulunya itu. Kebekuan adegan dan ekspresi dalam seni lukis, termasuk pemilihan sudut pandang (angle) dan komposisi, merupakan inspirasi yang tiada habisnya bagi fotografi. Hal itu terus berlanjut hingga hari ini, dan esok.

Lukisan bentang alam Iseh dalam cahaya pagi, karya Walter Spies (Wikipedia, koleksi Tropenmuseum).

Diakui atau tidak, Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci banyak sekali merecoki otak para fotografer saat membuat foto potret. Contoh lain yang belum begitu lama berselang juga tak terlalu sulit ditemui. Pada Oktober 2011, Samuel Aranda memotret adegan seorang wanita sedang memeluk dan menenangkan kerabatnya yang terluka, di dalam suatu masjid yang difungsikan sebagai rumah sakit selama persengketaan di Sana’a (Yaman). Foto yang dibuat dalam penugasan untuk New York Times itu lantas terpilih sebagai World Press Photo of the Year.

Seketika memandangi foto itu, kita merasa seolah-olah sedang memirsa suatu lukisan. Gestur manusia, komposisi, serta pencahayaan dalam foto itu, oleh para pemerhati dan kritikus foto disebut “mengandung mood seperti yang dahulu ditemui pada lukisan-lukisan gaya renaisans”.

Dalam kali lain, terdapat beberapa contoh tentang bagaimana foto giliran menginspirasi pembuatan lukisan. Misalnya saja, fotografi terkadang digunakan sebagai referensi dalam melukis. Terutama yang terkait detail dan tekstur wajah.

Reproduksi “Lanskap dan Anak-Anaknya”, lukisan karya Walter Spies. Difoto di Puri Lukisan, Ubud, dengan izin (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia).

Pada saat lukisan dan foto sama-sama dapat merepresentasikan suatu hal yang sama, persepsi yang ditimbulkan bisa berbeda. Pada dasarnya, foto diklaim mewakili apa yang disebut ekspresi realistik. Akan tetapi, apakah kita dapat menyangkal bahwa pendekatan fotografi juga bisa ke arah surealisme?

“Persaingan” sesekali juga muncul. Pada 1842, seorang penulis majalah menyebut bahwa seniman lukis tak akan mampu menandingi akurasi dari daguerreotype. Balasan datang 17 tahun kemudian, kala Charles Baudelaire—seorang penyair—mengejek fotografi dengan menyebutnya “musuh abadi bagi seni”.

Altar dan paviliun di Desa Trunyan di tepian Danau Batur, Bali, 1932 (Walter Spies). John Stowell, "Walter Spies: The Artist as Photographer" dalam buku "Toward independence: a century of Indonesia photographed", diedit oleh Jane Levy Reed, Friends of Photography, San Francisco, 1991 (exh cat).

Omong-omong, pada Januari 1930, seorang lelaki muda berdarah Jerman kelahiran Rusia mulai menempati suatu paviliun beratap dobel yang dibangun pada lereng yang dasar lembahnya diairi oleh Sungai Campuan di Ubud, Bali. Nama lelaki ini Walter Spies. Ia seorang pelukis sekaligus fotografer.

Walaupun ia sendiri terpengaruh oleh gaya seni lukis Bali, Spies ikut memengaruhi perkembangan seni lukis setempat. Utamanya dalam gaya pencahayaan dan teknik pewarnaan. Ia hampir selalu menyertakan berkas-berkas cahaya (ray of lights) dalam karya-karya lukisannya. Terdapat kesan bahwa lukisan-lukisannya itu seolah-olah menggunakan teknik dodge dan burn yang biasa digunakan dalam proses kamar gelap pada era film hitam putih dan berlanjut ke era digital sekarang. Salah satu lukisan karya Walter Spies yang paling terkenal adalah “Het schilderij ‘Iseh im Morgenlicht”.

Dalam berfotografi, gaya Spies juga sangat dekat dengan lukisan-lukisannya: kerap menyertakan larik-larik cahaya. Ia rupanya terpesona. Kepada lanskap Bali, pun kepada cahaya paginya. Dalam kasus Spies, fotografi dan lukisan tetap berteman baik.

Rangda dalam pertunjukan Barong di Pagoetan, Bali, 1937 (Walter Spies). John Stowell, "Walter Spies: The Artist as Photographer" dalam buku "Toward independence: a century of Indonesia photographed", diedit oleh Jane Levy Reed, Friends of Photography, San Francisco, 1991 (exh cat).

Raja Karangasem yang terakhir, Dr AAM Djelantik yang mendirikan Himpunan Walter Spies Indonesia mengistilahkan karya-karya lukisan Spies sebagai “realisme magis”. Nah, sekarang pun kita masih sering menemukan penggunaan berkas-berkas cahaya dalam fotografi, misalnya pada fine art, bukan? ***

Dua foto terakhir ditampilkan dengan izin. Sumber foto: http://www.asia-pacific-photography.com/towardindependence/spies/index.htm

Reynold Sumayku adalah seorang fotografer, penulis, dan editor foto. Ikuti Reynold di Twitter. FotoKita juga ada di Twitter, Facebook, dan via akun NG Indonesia di GooglePlus.

Memasuki Era Jurnalisme “Hape”

Pin It

Pertanyaan yang masih selalu saya dengar setiap menjadi pembicara pada sebuah seminar jurnalistik di kampus adalah: “Kamera dengan spesifikasi bagaimana yang layak menjadi alat jurnalistik?”

Kesibukan di stasiun Duri, diabadikan dengan telepon selular. (Yunaidi/NGI)

Dan untuk informasi FK-wan, jawaban atas pertanyaan itu bisa berubah dari waktu ke waktu. Jawaban pada tahun 1990 atau bahkan tahun 2000 sangat berbeda dengan jawaban hari ini. Dan, untuk hari ini, jawabannya adalah tulisan ini.

Hal yang nyata adalah, saat ini teknologi fotografi sudah sedemikian maju, bahkan jauh di atas lima tahun yang lalu. Telepon genggam atau handphone atau HP atau hape, kini hampir tidak ada yang tidak dilengkapi kamera. Tidak heran, kini bisa dikatakan hampir tiap orang membawa kamera kemana-mana.

Bagaimana hasil pemotretan dari kamera hape saat ini? Hasil pengamatan saya atas fotografi hape (hape buatan 2013 ke atas) adalah: foto yang dibuat dengan hape atau kamera saku atau kamera DSLR, tak bisa dibedakan mata biasa dalam tiga kondisi: 1. Tidak dicetak terlalu besar. 2. Yang dipotret tidak bergerak terlalu cepat. 3. Saat pemotretan cahaya mencukupi.

Untuk poin pertama, jurnalisme jelas tidak butuh cetakan terlalu besar. Kalau diangkakan, cetakan besar itu adalah di aras 30 x 45 sentimeter. Dengan angka cropping pun, foto jurnalistik memang tidak pernah terlalu besar.

Pada poin kedua, dari pengalaman saya, acara-acara di jurnalisitk mayoritas tanpa gerakan yang berarti. Hanya foto-foto olahraga yang belum mungkin dipotret dengan hape. Sementara poin ketiga soal cahaya, defenisi cahaya cukup adalah manakala FK-wan memakai kacamata hitam, tetapi tetap dapat melihat dengan jelas, itu artinya cahaya cukup.

Secara umum, kini bisa saya katakan: selamat datang era jurnalisme hape. Hape adalah perangkat jurnalistik seutuhnya baik dari segi borkomunikasi maupun sebagai kamera.

Satu hal yang paling penting dalam fotografi hape adalah, karena penutup lensa kamera hape tidak terlindungi, dia sering kena jari berminyak. Foto yang dihasilkan lensa berminyak tentu sangat buruk. Maka, biasakan selalu membersihkan penutup lensa hape Anda sebelum memotret.

Arbain Rambey (Kompas, Selasa, 9/9/2014)

Samsung NX3000: Bantuan Mumpuni Bagi Pejalan Solo

Pin It

Samsung NX3000: ringan, praktis dan tidak memakan banyak tempat.

Bagi saya sebagai solo traveller atau pejalan solo, peranti untuk mengabadikan moment sepanjang penjelajahan mesti memiliki beberapa kriteria. Paling penting: ringan, praktis dan tidak memakan banyak tempat. Terlebih karena acuannya adalah travel light. Semua serba ringkas, bila perlu hanya membawa satu ransel.

Kedua, selain ringan, kamera mesti bisa memberikan hasil memuaskan bila memotret cepat. Semisal merujuk pengalaman saya dahulu, yaitu memotret koreografi para tentara di perbatasan Wagha, yang memisahkan India dan Pakistan. Gerak kaki mereka begitu rancak dan cepat. Atau saat memotret aktivitas di kedai dan warung makan tradisional. Kegiatan ini juga berlangsung cepat.

Saat memegang Samsung NX3000, saya langsung terpikat pada sosoknya. Bagi seorang fotografer profesional, fungsi menjadi kajian utama. Tetapi karena saya seorang pejalan dan kembali kepada kebutuhan yang tadi disebutkan, bentuk ramping kamera ini merupakan hal pertama untuk dikomentari.

Dengan bodi didesain retro warna cokelat (brown), sosok ramping Samsung NX3000 16-20mm terasa ringan di tangan. Strap pegangan bisa dipasang di satu atau kedua sisi, pilih saja yang paling nyaman saat ditenteng.  Permukaan bodi bertekstur, tak ubahnya seperti grip.

Keasyikan pertama, pengguna tidak perlu repot membidik lewat view finder. Tersedia layar monitor lebar dilengkapi indikator [berupa bidang-bidang kecil, satu atau banyak, bergantung feature yang dipilih] berwarna hijau [atau merah bila belum fokus].  Ingin membuat self-portrait atau lebih beken disebuat sebagai selfie, cukup angkat monitor [swivel mode] dan arahkan ke wajah kita. Tekan shutter dan monitor akan menghitung mundur. Say cheese dan jadilah potret kita.

Foto Selfie dengan Swivel Mode

Hasilnya tergolong memuaskan.  Ini keasyikan kedua, saya padukan kemampuan Samsung NX3000 membuat self-portrait dengan feature “beauty face”.  Tujuannya sepele, untuk “mengurangi” ketajaman profil jerawat di wajah. Dari jepretan saya, potret muncul sesuai keinginan! Walau bebas dari make-up apapun, kulit saya tampak lebih segar, bersemu merah dan mulus tanpa bintik-bintik jerawat.

Feature lain yang saya coba adalah “food”. Keberadaan opsi ini penting bagi saya, karena dapat memunculkan sosok hidangan atau menu dengan utuh, menonjol atau memiliki depth-of-field. Sehingga bila dipasang untuk menulis resensi tempat bersantap bakal tampak menarik, membangkitkan selera dan keinginan untuk mencoba. Saya pun mengabadikan sepotong pai apel dan segelas es cappuccino di kedai minum Saudagar Kopi, kawasan Sabang, Jakarta Pusat dan puas dengan bidikan ini.

Foto makanan dengan Food Mode

Beberapa eksperimen dari feature yang tersedia saya coba saat mewawancarai seorang travel writer ternama. Ekspresi beliau saat memaparkan pengalaman dan berbagi ide pun tertangkap utuh dengan  mode Aperture Value (AV, aperture priority auto exposure) yang saya terapkan untuk pemotretan dalam ruangan atau indoor.  Untuk pengubahan fokus dekat dan jauh, cukup tekan tombol (+) atau (-) yang terdapat pada sisi kiri lensa dimensi 16-20mm.

Kembali lagi kepada terminologi saya sebagai pejalan solo, Samsung NX3000 sangat mumpuni menjadi kawan dalam membuat dokumentasi perjalanan. Sebagai catatan, memory card yang digunakan adalah micro SD, dapat berbagi pakai dengan ponsel cerdas saya. Ini juga terhitung sebagai suatu keasyikan karena efisien dengan peranti yang dibawa saat travelling.

Berikut hasil jepretan dari Samsung NX3000 lainnya:

R. Ukirsari Manggalani, Solo Traveler.

Editor National Geographic Traveler

Jalan Panjang Canon, 80 Tahun Inovasi Demi Kemajuan Teknologi Fotografi

Pin It

Canon, sebuah nama yang tentunya sudah tak asing lagi diteling FK-wan. Salah satu produsen kamera yang menguasai pasar fotografi modern ini tentu sudah menemani perkembangan dunia fotografi yang mencapai usia ke-175 tahun.

80 tahun Kwanon.

Pada tahun ini, Canon merayakan ulang tahun ke-80 sejak kelahiran kamera prototipe Kwanon. Pabrikan ini terus berinovasi dengan ambisius untuk menghasilkan kamera terbaik di dunia. Sumbangsih Canon untuk kemajuan teknologi di bidang fotografi dan videografi tentunya tak bisa di pandang sebelah mata.

Prototipe kamera ini pertama kali diproduksi pada tahun 1934. Adalah Goro Yoshida yang lahir di Hiroshima yang menjadi tonggak permulaan kamera Canon saat ini. Yoshida yang tidak menamatkan pendidikan SMA nya dan hanya bekerja disebuah perusahaan perbaikan kamera dan film penasaran dengan kamera yang sering diperbaikinya. Dari keingintahuannya akan kamera, muncullah niat untuk membuat kamera sendiri.

Bersama Saburo Uchida dan Takeo Maeda, Yoshida mendirikan Precision Optical Instruments Laboratory yang menghasilkan prototipe kamera 35 mm rangefinder yang diberi nama Kwanon.

Nama Kwanon sendiri diambil dari nama Dewa umat Buddha, yaitu Kwannon Dewa Pengasih. Ini seperti doa bagi orang-orang agar mereka mendapat berkah dari sang Dewa saat mereka bekerja keras untuk menghasilkan kamera terbaik di dunia. Lensanya diberi nama Kyasapa yang diambil dari Mahakyasapa seorang murid dari Buddha.

Pada tahun 1936, dua tahun setelah kelahiran Kwanon dan melewati banyak trial-error, akhirnya mereka meluncurkan Hansa Canon, sebuah kamera 35mm focal plane-plane-shutter pertama. Inilah yang menjadi tonggak permulaan sejarah perusahaan Canon sebagai produsen kamera.

Tahun 1959, Canon memperkenalkan kamera single-lens reflex (SLR) pertama mereka, yakni Canonflex. Selanjutnya pada tahun 1961, Canonet sebuah kamera rangefinder terjual lahir dipasaran.

Seteah keberhasilan mereka dengan menjual Canonflex dan Canonet, produsen kamera ini terus memimpin pasar dengan kamera pupuler mereka seperti F-1 yang diperkenalkan pada tahun 1971. Dan juga AE-1 yang diperkenalkan di pasaran tahun 1976, sebuah kamera SLR pertama di dunia yang dilengkapi dengan microcumpter.

Pada tahun 1987, dengan inovasi teknologi, Canon meluncurkan EOS 650, sebuah kamera SLR pertama di dunia yang mememiliki kemampuan elektronik AF (autofocus).

Pada tahun 1995, EOS mulai memasuki era digital dan terus berkembang hingga saat ini dengan kamera berteknologi tinggi. Tahun 2012, perusahaan ini meluncurkan the Cinema EOS System yang memberikan akses kepada para pelaku kreatif dalam berekspresi dalam visual.

Inilah perjalanan panjang produsen Canon di dunia fotografi. Pencapaian besar yang dimulai dari keinginan untuk menghasil peralatan terbaik dibidangnya. Tentunya Kwanon yang dulu hanya protoripe telah menjelma menjadi Canon yang kita kenal saat ini. Selamat merayakan hal-hal menakjubkan dimasa datang Canon.

Dokumentasi Berkelanjutan ala Dwi Oblo

Pin It

Dwi Oblo dalam peliputan. (Foto: Agus Prijono)

Ada beberapa hukum wajib buat fotografer Dwi Oblo. Salah satunya: selalu menggali informasi lebih dalam selama peliputan.

Itu tak lain untuk menyelami setiap momen yang akan direkamnya. Bercengkerama dengan orang-orang dan bertanya terus-menerus. Rentang pertanyaannya dari yang sepele hingga yang rumit. Intinya: setiap peristiwa punya proses. Dan, Dwi Oblo ingin menyusup dalam setiap proses itu, lalu memotretnya. Kadang-kadang, membuat repot banyak orang—dengan sedikit rasa kesal.

Hal ini terjadi saat dia menjelajahi kawasan panas bumi Ulubelu dan wilayah sekitar Lampung. Tujuannya, mendokumentasikan jejak- jejak tanggung jawab sosial yang telah dikerjakan oleh PT Pertamina (Persero) di sana. Dengan tetap mematuhi prosedur keselamatan, Dwi Oblo menyisir setiap sudut wilayah itu dengan seksama. Bertanya, memotret, bertanya, memotret.

Hukum wajib kedua: jangan segan menerobos segala rintangan. Hasil dari dua hukum wajib itu: ribuan bingkai foto, yang sering membuat dia terkantuk-kantuk memilih dan memilah kala malam usai seharian memotret. Karya Dwi Oblo dapat Anda lihat dan resapi dalam sisipan “Merangkai Alam dan Peradaban Berkelanjutan” di Majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014.